Pengalaman Organisasiku.. from zero to hero?


Satu hal yang tidak terlepas dalam membentuk kehidupanku sampe sekarang ini adalah organisasi. Sebenarnya bagaimana awal mulanya dan kiprahku di organisasi? Coba baca ceritanya ya..

Semua diawali ketika aku masih di SLTP (skrg namanya sudah kembali jd SMP kl ga salah). Nah, waktu aku pertama kali masuk SMP itu ikut yg namanya MOS (Masa Orientasi Sekolah) -> baca: ngerjain anak baru.. lol. Waktu itu aku melihat para senior2 ini luar biasa.. dihormati dan (tentunya) ditakuti oleh junior2nya. 1 kata yang mungkin dapat digunakan untuk mewakili hal itu adalah: ‘kekuasaan’. Selama SD, aku hanyalah seorang murid yg tidak populer dan rasanya tidak begitu dikenal (setidaknya aku merasa seperti itu, walaupun tentunya punya temen jg >0< ).  Dengan kondisi seperti ini, tentunya aku merasa agak aneh namun tertarik dengan sistem senioritas di SMP. Dan tujuanku simple sekali.. untuk ngerjain anak baru.. >.< (kl dipikir2 agak2 ga berkelas ya ;p).

Kelas 1 SLTP

Kebetulan sekolahku bukan merupakan sekolah yg besar, bahkan angkatanku itu hanya 1 kelas, dengan total murid skitar 27 org kl tidak salah ingat, dan dari murid2 ini, walaupun aku bukan yang paling populer, namun aku termasuk yang cukup dikenal oleh guru dan para senior, soalnya aku dulu cukup pintar (sombong dikit nich ceritanya ;p). Dan tentunya ga perlu org pintar untuk memprediksi  kemungkinan diriku masuk menjadi pengurus OSIS dari jumlah murid dan kepopuleranku.. hehe..

Maka akhirnya aku terpilih menjadi OSIS bagian ‘kehidupan berbangsa dan bernegara’. Lalu kerjaannya ngapain? jawabannya: ga da. Selama menjabat pada periode itu (kls 1-2 SLTP), selain ikut2an dlm MOS, ga da kerjaan sama sekali.. lol. Waktu MOS rasanya senang sekali bisa ngerjain anak2 baru, dan tentunya aku yang suka ngerjain org ini ga bakal melewatkan kesempatan untuk ngerjain, terutama waktu dimintain tandatangan.. hehe..

Kelas 2 SLTP

Ada kebijakan baru dari sekolah yg menetapkan semua murid kelas 1 harus ikut ekskul paskibra, dan semua murid kelas 2 harus ikt ekskul PMR. Maka jadilah aku seorang anggota PMR, dan merupakan angkatan perintis.. hehe. Jadi, tidak ada senior ;p .

Tentunya sesuatu yang dipaksakan tidak akan berjalan mulus. Begitu pula dengan ekskul ini. Karena semua murid kls 2 harus ikt, maka pastinya bnyk teman2 yang malas, dan ‘cabut’ waktu jam ekskul. Aku sendiri merupakan org yg cukup rajin ikt ekskul ini dan memang merasa cukup tertarik.

Selain PMR, aku masih ikt OSIS dan percaya ga percaya.. aku terpilih menjadi salah satu calon ketua OSIS. Rasanya banyak organisasi mempunyai permasalahan yang sama dengan yang ini, yaitu kesulitan mencari orang yang mau menjadi ketua.. haha. Aku pun malas ketika disuru menjadi calon ketua, wong tugas OSIS aja ga ngerti sama sekali, dan waktu itu aku merasa takut sekali terhadap tanggung jawab, apalagi KETUA.. lol. (sampe skrg juga masih ada ketakutan sich kl disuruh jadi ketua, tapi ga separah dl). Namun aku dari dulu tertarik sekali dengan jabatan namanya wakil ketua, karena bagiku itu merupakan jabatan elite yang bebas tugas, karena setauku dulu namanya wakil cuma bekerja kl ketua tidak ada (istilah politiknya: ban serep.. lol), dan kl di OSIS itu kan ketuanya ga mungkin ga da.. namanya jg anak sekolah.. jadinya ya gitu d ;p

Nah, beruntungnya dari dulu aku sudah cukup ahli dalam memprediksi sesuatu. Ketika diminta menjadi calon ketua, aku sudah memperhitungkan berapa kemungkinan aku menjadi ketua. Dan kl dilihat dari ketiga calon waktu itu, aku memprediksi diriku akan menjadi peringkat 2, yang biasanya akan memperoleh jabatan wakil ketua.. hehe.. (maaf.. aku sudah licik dr dulu.. ;p).

Gayaku dari dulu memang selalu slengehan, lucu dan tidak serius. Aku ingat ketika pasang poster untuk kampanye, yang lainnya begitu formal, tapi aku ingin membuat sesuatu yg berbeda, jd di nama panggilan itu kutulis ‘kodok’ yang merupakan panggilan beberapa orang terhadapku di masa itu (tp skrg uda ga, jd kl manggil itu kmungkinan besar ga nyahut gue ;p).

Sayangnya prediksiku ada sedikit meleset.. ternyata dikasi jabatan bendahara gara2 katanya lebih teliti dibanding yg 1 lagi.. wew.. jabatan yg cukup menyeramkan. Tapi akhirnya kuterima, jadi aku jadi bendahara OSIS selama kls 2 – 3 SLTP. Kl dipikir2, selama menjadi bendahara OSIS jg kerjaan tuh hampir ga da, kalaupun ada kerjaan, biasanya suruh wakil bendahara yg kerjain.. ;p

Kelas 3 SLTP

Pertama kalinya merasakan benar2 menjadi senior, yaitu di PMR. Harus menjaga dan membina adik kelas bukanlah hal yang mudah. Aku ingat sering sekali aku berbicara di depan, tetapi tidak ada yang memperhatikan. Seringkali menjadi kesal dan emosi. Pada saat itu aku terkadang masih sangat emosional. Rasanya ada beberapa kali aku teriak di dalam kelas (kalo ga salah ingat). Itulah pengalaman menjadi senior benar2 yang pertama kali. Hasilnya? gagal.. lol..

Kelas 1 SMU

Kembali menjadi junior. Kembali dikerjain waktu MOS. Aku ingat waktu hari ke-2 MOS, rambutku yang sudah dipotong pendek masih dibilang terlalu panjang, lalu diberi gel yg super banyak lalu dibentuk model mohawk -.-” lalu besoknya aku bolos MOS.. lol.. Senior di SMU (yang merupakan sekolah yang sama dengan SLTP ku) jauh lebih ganas dibandingkan waktu SLTP. Bahkan ada seperti geng perempuan yang suka teriak2 kaya idiot (Dan ajaibnya, yang kaya begini tuh di kuliahan jg bnyk, dan aku yakin sampe umur berapa pun, pasti ada wanita2 yg seperti ini.. istilahnya centil kali ya?).

Di kelas 1 ini 3 bulan pertama ada wajib paskibra. Seringkali kami dikumpulkan ketika pulang sekolah untuk ‘dikerjain’. Masa-masa itu, senioritas benar2 terlihat. Dibentak dan diteriaki sudah menjadi makanan sehari-hari. Aku ingat ada 1x bersama 4 org teman laporin hal ini ke kepsek. Akibatnya kami dikumpulin lagi sama senior abis pulang sekolah, dan ditanya siapa yg lapor ke kepsek. Aku ingat waktu itu cm aku dan 1 org temanku yang mengaku. Akibatnya dimaki2 dan tas dilempar. Waktu itu aku belajar 2 hal.. betapa sialannya senior, dan betapa tidak setiakawannya temanku.. ( untuk kesetiakawanan sich nanti mungkin bisa dibuat tulisan sendiri.. soalnya ada bnyk jg nich pengalaman). Sejak itu, aku dan temanku itu sudah seperti incaran para senior paskibra.

Setelah 3 bulan wajib paskibra, anak2 baru diizinkan memilih mau PMR ato tetap di paskibra. Nah, pada minggu2 terakhir wajib paskibra,  ada senior PMR yang promosi. Aku ingat benar ada 1 senior wanita dr PMR yg bilang di depan kelas kaya gini: “Eh kalian jgn gara2 waktu SMPnya uda pernah ikt (ekskul), trus merasa uda jago ya! Jangan Sok!” dengan gaya yg sangat nyolot. aku yakin 100% ucapan itu ditujukan padaku dan temanku, atau bahkan lebih yakin lagi kalau ucapan itu ditujukan padaku, karena dia sempat melihat ke arahku waktu bicara seperti itu. Mendengar ucapan itu, entah mengapa jadi timbul keinginan untuk membuktikan bahwa aku tidak seperti itu. Aku lalu bertekad aku akan menunjukkan pada senior2 sialan itu bahwa aku memiliki kemampuan, bukan cuma ngomong doank.

Setelah 3 bulan, tanpa diragukan lagi, sudah pasti aku pindah ke PMR. Di sini, aku menyadari bahwa hanya sedikit dari mereka yang benar2 menyebalkan. Dan senior yang tadi berkata dengan sungguh hebat itu… ternyata tidak lama setelah aku masuk, dia sudah tidak aktif lagi. Memang benar kata pepatah: “Tong kosong nyaring bunyinya”.

Kelas 2 SMU

Kembali menjadi senior. Oh iya, di SMU aku tidak menjadi OSIS, karena sebagian besar pengurus OSIS merupakan anggota paskibra.. haha.. tidak adil memang, tapi dimana-mana orang selalu memilih teman untuk jabatan. Jadi apabila ketua OSIS berasal dari paskibra, orang-orang PMR hanya sedikit yang dipilih, itu pun paling hanya dari teman dekat. Namun kalau bagiku, kinerja adalah yang utama. Relasi adalah sampingan. Jadi bila aku menjadi pemimpin apapun, jangan terlalu mengharapkan bisa KKN, karena pada dasarnya aku tidak suka seperti itu, kecuali kalau orang itu memang mempunyai kemampuan.

Menjadi senior pada saat ini tidaklah seperti dulu lagi. Aku sudah mulai terbiasa, mulai santai, tapi tegas. Tidak seperti senior lain yang suka mencari kesalahan2 yang tidak masuk akal, aku cukup menyebutkan kesalahan yang wajar dan menghukum mereka ( lol.. sama aja ya ujung2nya?). Walaupun tidak bisa benar2 membuktikan, tapi aku yakin di satu sisi aku merupakan senior yang paling galak, dan di sisi lain aku merupakan senior yang paling dihormati. ( terkadang orang hanya takut, tapi tidak menghormati).

Kelas 3 SMU

Berada di kelas 3, aku merasakan pikiranku dipenuhi dengan perasaan malas yang luar biasa, baik dalam belajar, maupun dalam berorganisasi. Bukan berarti aku tiba2 menjadi ranking terakhir atau semacam itu, tapi jelas sekali kurasakan malas dalam melakukan segala sesuatu. Mungkin pikiran telah mencapai tahap ‘jenuh’ dengan semua ini.. dengan belajar ataupun organisasi. Sebagai seorang senior dalam organisasi, aku sudah tidak terlalu mencampuri kegiatan2 itu, walaupun masih aktif. Aku melihat anak2 kelas 2 sering sekali mencari2 kesalahan dari adik2 kelasnya. Satu hal yang sebenarnya kurang kusukai. Aku sendiri terkadang menegur, tapi lebih sering membiarkan. Bagaimanapun juga, ini adalah masa mereka, bukan masaku lagi.

Aku ingat suatu hal yang sangat menarik pada masa ini. Pelatih PMR pada waktu itu sering memarahi anak2 kelas 3.. aku tidak ingat pastinya sebabnya karena apa, tapi aku ingat pada waktu itu teman2 yang sudah merasa jenuh menjadi semakin malas. Rasanya pada waktu itu semua memang sudah mencapai titik jenuh. Pelatihku sendiri jarang datang (mungkin karena kesibukan di tempat lain), dan ketika datang pun, hampir dipastikan dia bakal marah2 entah kenapa. Akhirnya pada suatu ketika, ada lomba cerdas cermat PMR, dan pada waktu itu aku merasa inilah waktunya perubahan.

Aku mendiskusikan suatu hal dengan teman2ku kelas 3 yg masih aktif di PMR. Setelah sepakat, aku lalu berkata ke pelatihku, “Kak, gimana kalo kita buat taruhan.. Dalam lomba ini, kami pasti bisa menghasilkan piala. Kalau kami gagal bawa pulang piala, kakak boleh membekukan seluruh senior kelas 3, tapi kalau sampai berhasil, untuk kedepannya jangan pernah menyalahkan kelas 3 atau marahin kelas 3 lagi.” Tidak ingat pastinya seperti apa, tp kira2 aku menantang pelatihku seperti itu. Waktu itu pertimbangannya adalah karena aku lihat anak2 kelas 3 sudah banyak yang tidak aktif, dan yang masih aktif pun semua sudah malas. Jadi sebenarnya walaupun dibekukan itu juga tidak apa2, tapi kalau menang kan setidaknya kami mendapat image yang bagus (hehe.. sekali lagi otak licikku berjalan dengan sangat baik).

Pelatihku sendiri melatih beberapa sekolah.. mungkin karena itu kami merasa sekolah kami agak ditelantarkan (dan rasanya bukan cuma perasaan, tapi kenyataan). Jadi untuk lomba itu, sekolah2 lain diatur oleh pelatih, sedangkan tim dari sekolah kami diatur olehku. Yup.. i’m the manager. Waktu itu rencanaku menurunkan anak2 campuran kelas 2 dan kelas 1 untuk ikut lomba. Kalau tidak salah kami menurunkan 2 tim. Ketika lomba, 1 tim telah kalah. Dan akhirnya setelah dipertimbangkan, akhirnya aku yang tadinya tidak ikut lomba, jadi masuk ke lomba (kebetulan aku sudah pernah ikut lomba beberapa kali, jadi sedikit banyak juga sudah berpengalaman). Kami mencapai final, dan aku ingat ketika itu ada beberapa tim asuhan pelatihku juga masuk final. Kami sendiri masuk final karena keberuntungan (hampir kalah di babak sebelumnya). Final itu diikuti 5 kelompok kalau tidak salah. Akhirnya karena pelatihku menganggap peraturan dari lomba tidak adil, ia lalu menyuruh semua timnya untuk walkout dari lomba itu, termasuk tim kami. (mungkin karena beberapa tim andalannya gugur). Namun kelompokku tidak mundur.. aku tidak mau menuruti emosi dari pelatihku, dan akhirnya kami berhasil keluar sebagai juara 1.

Setelah kejadian itu, pelatihku tidak mau mengakui kemenangan kami, walaupun piala sudah di tangan kami. Namun itu tidak penting, karena kami sudah berhasil menunjukkan kemampuan kami. Tidak penting menunjukkannya pada pelatih yang arogan, namun aku sadar pengaruhnya cukup besar pada junior2 kami di kelas 1. Kami mendapatkan respect dari adik2 kelas.

Kejadian itu mungkin merupakan awal dari perubahanku dalam kehidupan berorganisasi. Aku menyadari bahwa orang yang lebih tua bukan berarti mereka selalu lebih dewasa, ataupun lebih baik. Aku menyadari terkadang mereka tetap bisa arogan ataupun emosional, dan aku bahkan merasa aku dapat mengendalikan emosiku jauh lebih baik dari pelatihku. Dan pada waktu itu sudah timbul pula keberanianku dalam menyampaikan sesuatu, tidak peduli orang lain lebih tua ataupun muda. Inilah dasar dari kemampuan organisasiku.

Kuliah

Kembali ke awal lagi. Seorang mahasiswa baru yang belum tahu apa2. Aku ikut POM (Pekan Orientasi Mahasiswa) sampai selesai. Pada waktu itu masih ada senioritas, jadi memang benar2 cukup terasa ‘penderitaan’-nya. Di satu sisi, kami jadi cukup akrab dalam 1 kelas. Bagaimanapun juga, senasib dan sependeritaan bisa menyatukan orang (aneh tapi nyata).

Selesai POM, aku mendaftar di beberapa organisasi, dan akhirnya menjadi aktivis di 2 UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), yaitu di UKM kerohanian, dan satu lagi di sebuah UKM penalaran.. hehe.. lebih baik dirahasiakan krn akan dibahas di bawah ;p Tentunya aku masuk ke kedua UKM ini dengan status sebagai aktivis.

Pertama kali masuk, aku merasa sangat percaya diri dengan kemampuanku, mengingat waktu sekolah pengalamanku sudah cukup OK. Tapi ternyata, setelah masuk.. kemampuanku itu bukan termasuk hebat disana, hanya biasa2 saja, bahkan termasuk kurang.

Tahun pertama (2005-2006)

Tahun pertamaku cukup sibuk. Akan kuceritakan dari masing2 organisasi. Kita sebut saja UKM penalaran itu sebagai A, dan UKM kerohanian sebagai B. (jadi ingat matematika zaman sekolah.. lol)

Kedua UKM ini mempunyai pola organisasi yang berbeda. A merupakan UKM yg isinya bukan hanya org yang mau aktif, tapi sebagian besar anggotanya justru hanya ingin belajar materi dr UKM itu. Misalnya.. ada orang yang ikut english club untuk ikut kelas belajar bahasa inggris saja, bukan untuk aktif di UKM tersebut. Jadi org yang aktif pada UKM itu cukup sedikit, mungkin di bawah 100 orang. Sedangkan B merupakan UKM yang anggotanya seluruh orang beragama sama di kampus ini. Tentunya kebanyakan tidak menjadi aktivis, hanya umat. Namun kalau dilihat dari total yang aktif, UKM kerohanian hampir dapat dipastikan mempunyai aktivis yang terbanyak. B sendiri mempunyai total anggota aktif sekitar 200 orang.

Karena orang yang aktif di A tidak banyak, maka jika dibuat event, semua org yang aktif dimasukkan ke dalam kepanitiaan. Sedangkan di B, jika ada event, kita akan ditanya terlebih dahulu kesediaan untuk membantu. Jika tidak mau, maka tidak dimasukkan ke kepanitiaan. A selalu rapat setiap jumat, sedangkan B pada jam yang sama mengadakan acara kerohanian. Rapat umum di B cukup jarang, mungkin hanya skitar 3 kali dlm 1 tahun.

Ketika awal, aku membagi waktuku sama rata antara kedua UKM. Tapi rapat setiap minggu menurutku sangat tidak efektif. Selain itu, aku merasa kehadiranku di rapat itu memang tidak penting. Kalaupun tidak datang juga tidak apa2, dan memang rasanya hal yang dibahas itu sebagian besar cukup diketahui oleh manajemen tingkat menengah saja (tidak usah sampai aktivis). Jadi aku terkadang bolos rapat dan ikut acara kerohanian.

Kemudian diadakan latihan kepemimpinan dari kedua UKM. Aku ikut kedua2nya. Dan dari latihan ini, aku merasa bahwa LDK di A memang jauh lebih baik. Aku suka latihan yang keras, karena menurutku untuk membentuk orang itu harus keras, tidak bisa lembek. Filosofi ini aku dapat dari pelatihku di PMR dulu. Umpamanya seperti kita membentuk tanah liat, apabila kita perlahan-lahan saja, tidak akan bisa membentuk. Untuk membentuk itu harus keras, baru bisa jadi bagus. Latihan kepemimpinan di B memang terasa sangat lembek untukku. Mungkin memang karena berdasarkan kerohanian.

Untuk jenis event, A hanya mempunyai sedikit event, namun kebanyakan event itu merupakan event besar yang seringkali diadakan di luar kampus. Sedangkan B, mempunyai banyak event, namun kebanyakan event diadakan di kampus, walaupun ada juga yang cukup besar dan diadakan di luar.

Nah dalam event2 ini, aku sebagai anggota dari divisi tertentu di A hampir selalu merasa koordinatorku tidak dapat melakukan tugas manajemennya dengan baik. Koordinator hampir semua dipilih dari pengurus, namun ternyata skill mereka sebagai pengurus memang masih kurang. Dan akupun seringkali tidak mendapat tugas. Karena tidak akrab dengan pengurus (dan memang menyenangkan tidak mendapat tugas :p), maka aku cuek saja. Selain itu, dari pengaturan dari atasan juga rasanya tidak beres, karena aku entah sudah 2-4 kali menjadi panitia divisi humas, dan tidak pernah berpindah ke divisi lain. Padahal jika pengaturan benar, maka harusnya akan jauh lebih baik jika kami sebagai aktivis di- rolling ke divisi lainnya. Dan karena aku cukup sering membolos rapat (yang semakin lama semakin sering kulakukan), maka makin tidak akrablah aku dengan mereka, walaupun cukup banyak yang mengenalku karena bersama2 ikut di LDK.

Hal ini tentunya telah menciptakan suatu kondisi perbedaan. Anak-anak yang cukup rajin (dan umumnya hanya aktif di A saja), sudah mulai dipercaya oleh para senior untuk menjadi koordinator event. Sedangkan bagi kami yang setengah-setengah (dan jumlah orang sepertiku di A ini cukup banyak) tentunya akan semakin menghilang.

Sekarang waktunya bercerita tentang B. Sama seperti di A, pada event2 tentunya ada koordinator2 event yang kurang kompeten. Namun disini lebih wajar, karena koordinator memang hampir seluruhnya dipilih aktivis-aktivis baru. Dan suatu ketika, mantan koordinatorku di suatu event akhirnya dipilih menjadi ketua event baru. Dan dia memilihku menjadi koordinator transportasi. Rasanya siapapun yang tidak pernah menjadi koordinator akan ada suatu ketakutan terhadap tanggung jawab ini. Akupun begitu. Namun setelah memikirkannya, akhirnya aku menerima dan itulah pertama kalinya aku menjadi koordinator dalam sebuah event.

Selama mengurus event ini, aku merasa bahwa kemampuan manajerial-ku ini masih sangat payah. Tapi kl dipikir2, pada waktu itu tidak merasa sich. Mungkin kita memang akan merasa kemampuan kurang pada saat kemampuan kita sudah lebih.

Anyway, setelah menjadi koordinator di event itu, aku kemudian dipercaya lagi untuk menjadi sub koordinator di event lainnya di B. Sedangkan di A, aku hanya menjadi aktivis yang kadang-kadang bantu saja.

Aku ingat pada pemilihan ketua event terakhir di B, aku sempat mengajukan diri.. haha.. tentunya dari awal aku sudah tahu akan kalah. Iseng2 aja, sekalian menunjukkan pada yang lain bahwa aku eksis. Mungkin karena itu aku dipilih menjadi salah satu sub koor di event itu.

Pada akhir masa kepengurusan ini, aku mendapat emblem dari B, dan tidak mendapat emblem dari A.. haha.. aku ingat mereka membuat acara 3 hari di luar kota untuk ganti ketua sekaligus keakraban dan tentunya bagi2 emblem. Kl tidak salah waktu itu acaranya bentrok dengan acara di B, jadi aku pilih acara di B.

Tahun kedua (2006-2007)

Melanjutkan kembali di kedua organisasi itu. Pastinya statusku adalah pengurus di B. Sedangkan di A, aku juga bingung statusnya apa. Karena di A, pengurus adalah orang-orang yang mempunyai emblem, sedangkan aktivis adalah orang2 yang baru join. Nah aku kan sudah 1 tahun, tapi tidak ada emblem. Jadi statusnya ga jelas gitu. Tapi setidaknya tidak disamakan dengan aktivis sudah cukup baik.

Aku ingat di A, koordinator organisasi (yang tentunya senior), mempunyai wakil koordinator yang dipilih dari angkatanku. Hal itu kembali mengkotak-kotakkan kami. Berdasarkan pengamatanku, yang dipilih adalah orang2 yang pada tahun sebelumnya sangat rajin. Namun rasanya sangat disayangkan karena rasanya hanya faktor itu saja yang dipertimbangkan. Secara pribadi aku merasa sebagian besar dari teman seangkatanku itu tidak mempunyai skill manajerial, dan sebagian dari mereka masih sangat egois dan emosional. Aku mengetahuinya karena sikap mereka itu seperti diriku ketika baru pertama kali mengatur (lihat bagian SLTP kls 3).

Di B, aku maju kembali menjadi calon ketua event (kali ini tentunya dengan kemungkinan menang yang lumayan besar). Aku kalah dalam pemilihan (yang bagiku tidak masalah sama sekali, karena memang pada dasarnya aku malas menjadi ketua), dan kemudian dipilih menjadi koordinator acara dalam event ini.

Aku ingat suatu kali aku mendapat giliran jaga stand di A. Waktu itu kalau tidak salah aku ada urusan mendadak sehingga tidak bisa jaga. Kuberitahukan kepada PIC dari stand itu (yang juga merupakan wakil koordinator organisasi). Tidak kusangka ternyata dia memarahiku dan memaksaku mencari pengganti. Aku ingat waktu itu aku kesal sekali, tapi ada juga pemikiran kalau orang ini memang orang tidak pernah memimpin, namun diberi suatu kekuasaan, akhirnya terjadi penyalahgunaan kekuasaan. Karena bagaimanapun juga, walaupun dia wakoor, tapi kami seangkatan. Rasanya lucu sekali dia memarahiku seperti atasan memarahi bawahan. Aku sadar memang salah, tapi rasanya tidak perlu sampai marah, cukup ngomong saja juga sudah ngerti. Waktu itu aku menghela nafas dan pergi saja tanpa mempedulikannya. Dan untuk kesekian kalinya timbul niat untuk keluar dari UKM itu.

Aku ingat ketika liburan sebelum anak2 baru masuk, aku pernah membantu dekorasi di sekre A. Ada beberapa orang yang datang. Waktu itu aku membantu 1/2 hari, lalu berencana mau pulang. Kemudian ketua terpilih dan juga sekben malah memberikan sindiran yang intinya mengatakan kita harus berkorban untuk organisasi. Aku bukan orang yang memerlukan terima kasih, tapi ya tolong tahu diri sedikit. Kalau orang telah membantu, sesedikit apapun harus dihargai, bukan malah dirasa kurang. Padahal ada begitu banyak orang yang tidak membantu. Apalagi jabatan mereka adalah ketua dan sekben. Bayangkan, orang2 penting dalam sebuah organisasi berkata seperti itu. Ya dengan suasana tidak enak, akupun meninggalkan sekre itu.

Dan akhirnya ada sebuah event di A, dimana aku merasa: I had it!, yaitu pada sebuah event dimana untuk kesekian kalinya aku lagi2 dipilih menjadi anggota humas. Koordinatorku adalah seseorang dari angkatanku. Dan lagi2 hubungan kami benar2 seperti atasan dan bawahan. Dia selalu memberi tugas, dan ketika tugas selesai, kemudian diberi tugas lagi. Dia merasa karena dia kerja berat, maka semuanya juga harus kerja yang sama. Sebenarnya hal itu tidak masalah sich, tapi sekali lagi masalah komunikasi. Apabila disampaikan dengan cara yang benar tentunya akan lebih mudah diterima. Tapi bila menganggap seperti bawahan, ya untuk apa kuturuti? orang tidak dibayar.

Setelah event itu selesai, aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari A. Sang ketua waktu itu mengatakan “yah, sayang sekali. Baru kepikir mau kasih kamu emblem habis ini”.. well sorry girl, it’s too late. Aku mundur, dan tidak tahu ada hubungannya atau tidak, tapi ada 4-5 orang yang mundur setelah aku mundur… haha, no comment mengenai yang satu ini.

Dengan itu maka selesailah pengalamanku di A. Pengalaman yang sebagian besar tidak baik, namun merupakan pembelajaran yang hebat untukku. Setidaknya aku tahu, kalau menjadi pemimpin, jangan menjadi orang-orang seperti ini.. haha..

Sekarang kita lanjutkan dengan B. Aku memang boleh dikatakan sangat aktif di B. Setelah event dimana aku menjadi koordinator acara selesai, waktu itu aku memutuskan untuk kerja di sebuah tempat les dekat binus. Sempat terpikir untuk melepas semua kegiatan organisasi karena kupikir akan sibuk, namun nasib berkata beda. Tiba2 saja ada ketua event yang mengajakku menjadi wakil ketua event. Dan aku pun menerima tawaran itu.

Pada pemilihan ketua event yang selanjutnya pun aku maju kembali, dan kembali kalah.. :p Untungnya aku bukan orang yang benar2 peduli menang atau kalah, kalau tidak, pasti stress karena beberapa kali maju tidak tapi tidak menang.

Di akhir periode, aku terpilih menjadi salah satu calon ketua dari organisasi ini. Dan dari awal sebenarnya aku sudah memperkirakan tidak akan menang, karena aku bukanlah seorang calon yang benar2 populer, tapi aku bukanlah orang yang suka mengundurkan diri. Bagiku, kalau memang terpilih, berarti orang-orang mempercayakan jabatan ini padaku, dan kalaupun tidak terpilih, tidak masalah juga bagiku, karena aku memang malas dengan posisi-posisi seperti ini.

Aku pun kemudian gagal terpilih. Ketua terpilih kemudian mengangkatku sebagai salah satu koordinator bidang, yaitu bidang web, database, dan pelatihan. Aku sendiri merupakan orang yang nyeleneh dan memang suka melakukan hal2 ‘berani’. Maka aku pun membuat perubahan besar pada bidang yang kutangani. Strukturnya kurombak habis. Namanya pun kuubah menjadi bidang Teknologi Informasi. Tentunya perubahan ini sudah disetujui oleh ketua dan para dewan pembina.. hehe..

Tahun ketiga (2007-2008)

Menjadi seorang koordinator bidang, aku benar2 membuat suatu tingkatan pada jabatan. Bukan bermaksud sombong, namun aku ingin para pengurus dan aktivis benar-benar bekerja, sehingga tidak sia-sia, jadi aku membatasi diri hanya pada tingkatan konseptual. Konsep-konsep besar pada bidang ini kutangani, ide-ide kubuat, lalu kuserahkan pada para pengurus untuk menjalankan. Dan kubuat mereka mendidik para aktivis untuk membantu pekerjaan mereka. Aku sendiri hanya mengontrol saja, walaupun memang siap juga untuk turun tangan jika ada yang tidak beres.

Lalu bagaimana hubunganku dengan para aktivis dan pengurusku? Coba perhitungkan worst case dari kepemimpinan, yaitu semua pengurus dan aktivis tidak mau kerja dan semuanya mundur. Nah kalau itu terjadi, mungkin tidak bagi kita untuk mengerjakan semua tugas itu sendiri? Setidaknya untuk jabatanku sekarang, jawabannya adalah “Tidak Mungkin”, oleh karena itu, jangan sampai itu terjadi. Bagaimana caranya? ya dengan benar2 memberikan respect pada para pengurus dan aktivis. Jadi ya JANGAN sekali-sekali menganggap mereka seperti bawahan, walaupun berdasarkan struktur organisasi, memang mereka di bawah kita. Hormatilah orang2 itu, karena selain mereka semua bekerja dengan sukarela, mereka juga membantu kita dalam menjalankan tugas.

Aku sendiri selalu menganggap mereka semua sebagai 1 tim. Hampir pada setiap hal, aku selalu mengajak diskusi para pengurus. Jadi selama menjadi koordinator, aku mempunyai 2 tim, yaitu teman2 pengurus dari 1 bidang, dan juga teman-teman pengurus inti. Aku selalu berdiskusi dengan teman2 itu.

Akhirnya periode itu pun lewat, walaupun terkadang terasa bosan dan berat, namun akhirnya aku berhasil menyelesaikannya, dan pensiun dengan damai (lol.. kaya tewas aja). Dan kemudian fokus dengan skripsiku.

Tahun keempat (2008-2009)

Tidak banyak yang kulakukan di periode ini, hanya menyelesaikan kuliah dan skripsi. Aku mulai aktif lagi dalam pelatihan calon ketua yang baru dalam organisasiku. Saat itu kebetulan alumni-alumni yang lain sudah kerja, dan aku sendiri pada waktu itu belum bekerja rutin, hanya mengerjakan proyek2, jadi aku ikut saja untuk meng-gembleng anak2 yang menjadi calon ketua.

SEKARANG (2009)

Dipilih menjadi salah seorang dari Dewan Pembina dari organisasiku. Tugasku mengawasi para pengurus inti dan juga memberikan nasehat-nasehat. Jabatan yang tentunya tidak banyak orang bisa menduduki. Sebenarnya sich, aku merasa malas sekali ketika ditawari jabatan ini. Namun inilah diriku sekarang.. seorang dewan pembina, dan tentunya, prinsipku, bila menjalankan sesuatu ya harus sampai akhir🙂 Dan akhir dari jabatanku sekarang adalah sekitar november 2010. Sampai saat itu, aku akan terus berjuang dengan sepenuh hati (sedikit berlebihan.. hahaha :p).

Hahaha.. tidak disangka jadinya panjang sekali >.< Mudah2an tidak bosan membacanya. Kalau bosan ya sudah ga dibaca juga tidak apa-apa, hanya ingin mencurahkan saja..

~ by desmaster on December 13, 2009.

2 Responses to “Pengalaman Organisasiku.. from zero to hero?”

  1. emang imbalah kk d***** wakakakakaka…. ganti nama jadi dewa d***** aja ah… jgn kk d*****…

    asli lelah mata gwa baca satu2 ( scroll aja dah… langsng comment )

    • wkwkw dodol lagian rajin bener u baca.. wkkwwk.. itu curhatan tuh.. kl gue disuru baca lagi jg males.. wkwkwkw..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: