Hidup Memang Tidak Bisa Ditebak


Sudah lama tidak menulis di blog sendiri, skrg mumpung ada waktu mau nulis dikit. Temanya kali ini adalah ‘Hidup Memang Tidak Bisa Ditebak’ atau bahasa kerennya ‘Life is Unpredictable’. Kenapa gue bisa bilang begitu? Dari perjalanan hidup gue tentu aja.

Coba dech ingat-ingat waktu masih SMA, berapa banyak di antara kalian yang bingung waktu mau pilih jurusan kuliah? Gue dulu juga sama. Bingung mau pilih jurusan apa. Waktu itu jurusan-jurusan yang sempet kepikiran itu antara lain kedokteran, komputer, bahkan sempet kepikiran ambil jurusan ganda TI-Mat ( soalnya dulu waktu SMA suka mat, tp entah kenapa waktu kuliah malah jadi mumet waktu liat integral & differensial.. brrrr). Akhirnya waktu itu pilihan akhirnya yaitu jurusan Teknik Informatika. Alasannya.. ga jelas. Cuma ikut-ikut aja. Karena ortu mikirnya komputer lagi berkembang. Trus waktu itu uda ada kakak yg ambil jurusan komputerisasi akuntansi. Tapi karena gue ga suka akuntansi, ya uda pikirnya ambil yang bener2 full komputer aja, yaitu TI. Dan sebenernya dulu tuh mikirnya kuliah itu tujuan utama itu title, n koneksi (teman), bukan skill. Yah masih untunglah waktu lulus masih ada skill yg nyangkut, bukan cm S.kom abal-abal :p

Nah waktu pertengahan kuliah, timbul lagi 1 pertanyaan.. uda lulus mau kerja jadi apa? Dulu sempat kepikiran mau kerja kantoran, dengan kemeja tiap ari dan mungkin + dasi. kejar kerjaan mulai dari programmer sampe bisa jadi project manager. Tapi waktu itu sempet dengar ide gila dari 1 orang teman yang menawarkan gimana kalau lulus nanti bikin game? kebetulan dia designer dan cari programmer. Dulu itu sih mikirnya ah gila banget.. bikin game? Kayanya bener-bener asing tuh.

Kalau liat film Inception (Leonardo di Caprio) (baru nonton kemaren :p), bakal denger kata-kata: “AN IDEA IS LIKE A VIRUS“. ~ sebuah ide itu seperti sebuah virus. Mudah menyebar berkembangbiak dan menjangkiti. Demikian pula ide sebagai game developer. Waktu itu rasanya benar2 tidak mungkin.. namun lama-kelamaan dipikir-pikir.. rasanya menjadi makin nyata. Ditambah lagi sebenarnya gue bukan tipe orang yang suka diatur-atur, apalagi di kantor. Jadi rasanya ide itu menjadi sebuah ide fresh. Tapi yang menjadi masalah adalah.. apakah bisa hidup hanya dengan bikin game?

Jawabannya ternyata adalah.. BISA. Dan itulah yang telah kukerjakan selama kurang lebih 1 tahun ini. Membuat game. Pekerjaan yang.. menurut pendapat gue.. enak sekali, sangat menyenangkan, memberi banyak kebebasan waktu, dan juga dengan penghasilan yang boleh dikatakan cukup besar.

Kurang lebih Juni 2010, ketika sedang ngumpul bersama teman-teman. Salah satu teman mengatakan mau mengambil S2. Wow, gue pikir. Dulu waktu lulus S1 ada beberapa orang yang menanyakan ke gue apa mau ambil S2. Gue pikir.. “ah gila, dari kecil sampe gede selalu belajar, uda muak, waktunya cari duit.” Tapi itu 1 tahun lalu. Sekarang ini bagaimana? Sebenarnya waktu dulu ikut tes masuk BCA, ada salah satu tes dimana kita harus mendeskripsikan mau jadi apa. Waktu itu gue menulis.. mau jadi dosen. Sekarang tiba-tiba terpikir, jadi dosen itu harus kuliah S2. Dan kalau urusan duit, rasanya kerja gue waktu 1 tahun ini uda hampir cukup buat bayar sampai lulus. Lagian kan ga mungkin cuma kuliah, pasti sambil kerja juga. Dan sekali lagi ide itu berkembang seperti virus.

Dalam satu bulan ini gue terus berpikir ambil atau tidak.. kalau ambil, pikirnya sich mau ambil manajemen, walaupun beberapa teman ada yang ajak ambil MTI (magister teknik informatika). Gue terus berpikir sampai akhirnya memutuskan.. uda la.. yg penting bisa ngajar. Ambil MM aja.. yg penting dpt title. 2 hari sebelum gue memutuskan utk membeli form, gue tanya ke sekjur TI tentang lowongan dosen. Dan ternyata katanya.. kl S2 MM itu ga bs ngajar TI.. padahal gue tertariknya ngajar TI. Akhirnya buru-buru cari tau segala sesuatu tentang MTI.

Gue menanyakan detail-detail MTI ke beberapa teman yang sudah masuk. Pada akhirnya, gue tau kalau MTI itu.. ga cocok sama gue. Materinya untuk seorang IT di perusahaan besar.. dan itu bukan sesuatu yang gue tertarik. Kalau ambil MTI hanya biar bisa ngajar TI, rasanya juga terlalu besar biaya yang dikeluarkan, belum lagi tidak enjoy dalam belajar. Jadi akhirnya gue putuskan untuk tidak mengambil MTI (untuk sekarang).

Pilihan yang tersisa pun hanya antara mengambil MM atau tidak mengambil sama sekali. Sempat terpikir untuk mengurungkan niat.. menganggap semua hanya mimpi. Fokus di pekerjaan sampai akhirnya dikirim ke luar negeri. Tapi pemikiran terus menerus muncul. ‘Kalau tidak sekarang, kapan lagi?’ Kalau tidak sekarang, tahun-tahun selanjutnya pasti bakal lebih malas. Di samping itu, ada paket MM yang cukup murah untuk orang yang lulus kuliah belum lewat 2 tahun. Dan, seperti yang gue suka kasih tau ke teman-teman gue waktu ajakin mereka ambil master degree: ‘investasi pada bidang edukasi merupakan investasi yang paling menguntungkan’.

Pada akhirnya.. hidup memang tidak bisa ditebak. Gue memutuskan untuk mengambilnya. Pilihan ini bakal benar-benar mengubah hidup gue. Bahkan gue ga yakin bakal bisa kerja sebagai game developer lagi. Namun inilah pilihan gue, sama seperti waktu gue milih masuk IT, sama seperti waktu gue milih kerja sebagai game developer. Dan dengan segala keyakinan gue, gue bakal berusaha sebaik mungkin.

~ by desmaster on July 18, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: