Perjalanan Akbar 2012 ~ Surabaya, Batu, Bromo, dan Sekitarnya


Tak disangka ternyata tahun 2012 ini saya belum pernah nulis blog sama sekali ya… hohoho.. antara kesibukan dan kemalasan ini. Kali ini untuk memulai tahun 2013, saya akan tulis sesuatu yang gue lakukan di akhir tahun.

Kalau ditarik ke paling awal, semua dimulai dari tahun 2005-2006. Pada waktu itu, kami ber-10 bertemu di 1 organisasi dengan nama ‘Keluarga’. Tahun 2007, kami ber-10 menjadi 1 tim… sebut saja Tim 19. Selama kurang lebih satu tahun, kami berbagi banyak pengalaman baik suka maupun duka. Ikatan persahabatan di antara kami juga terjalin dengan baik. Siapa saja yang menjadi bagian dari tim ini? Pada post ini saya akan menggunakan kode berikut untuk menyebutkan masing-masing orang: AG, CN, JC, NV, SY, MR, EM, DS (saya sendiri), AJ, & DN.

Setelah kami lulus kuliah, semua sibuk dengan kegiatannya sendiri, walaupun terkadang kami masih bertemu. Ada teman-teman yang pulang ke kampung halaman, seperti Manado dan Palembang, dan ada juga yang ditempatkan di daerah luar, seperti Surabaya dan Singapura.

Satu kali, kami berkumpul di Jakarta, dan ada usulan untuk membuat satu jalan-jalan yang akhirnya kami namakan Perjalanan Akbar. Tujuannya adalah daerah Surabaya dan sekitarnya (mengingat AG bekerja di Surabaya). Satu kesulitan yang cukup besar adalah bagaimana bisa mempertemukan kami yang terpisah di berbagai kota. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi dengan cara masing-masing dan berkumpul di Surabaya. Perjalanan ini akan dilakukan dari tanggal 29 Desember 2012 sampai 1 Januari 2013. Selain itu, untuk yang memiliki pasangan (dalam hal ini pacar, karena kami belum ada yang menikah *untuk saat ini*), diperbolehkan untuk membawa pasangan masing-masing ikut acara ini. Akhirnya pada perencanaan terakhir, ada 14 orang yang ikut, yaitu AG & EL (pacar AG), CN & RC (pacar CN), JC, NV & ED (pacar NV), SL (adik NV), SY, MR, EM, DS, AJ & TF (pacar AJ). Sayangnya DN tidak bisa ikut dalam acara ini.

Maka dimulailah perjalanan kami. DS, SY, MR, dan EM pergi ke Surabaya dengan menggunakan kereta api tanggal 28 Desember malam, sedangkan yang lain naik pesawat. Ada yang tiba tanggal 28 Des, ada juga yang 29 Des pagi. Saya akan bercerita dari sudut pandang saya dalam perjalanan ini.

Jumat, 28 Desember 2012

Saya pergi ke Stasiun Jakarta Kota dan bertemu dengan SY, MR, dan EM. Kami bertemu di A&W yang ada di stasiun sekitar jam 5 sore. Sesuai jadwal, kereta kami dari Stasiun Jakarta Kota menuju Stasiun Pasar Turi Surabaya itu jam 17.45. Mengingat sesuai jadwal itu sampai di Stasiun Pasar Turi besok pagi jam 05.48 kalau sesuai jadwal.

Tiketnya sendiri kalau misalnya mau beli, bisa beli dengan mudah di minimart seperti alfamart dan indomaret. Bisa beli tiket untuk 3 bulan ke depan lho kalau mau. Tiket kami itu harganya per orang Rp. 260.000. Pada waktu pergi ke stasiun, jangan lupa bawa KTP karena akan dicek. Prosedurnya mudah: bawa tiket ke bagian penjagaan, nanti akan dicek apakah sudah sesuai dengan KTP, setelah itu tiketnya dikasi cap “TELAH DIPERIKSA”. Sudah bisa masuk ke dalam kereta deh.

tiketKeretaTiket yang Sudah Dicek (agak goyang karena difoto waktu kereta sudah jalan)

Mengingat kami akan berada di kereta api sampai pagi, jadi kami beli dulu makanan di A&W untuk makan di kereta. Saya sendiri belum pernah naik kereta dengan jarak yang jauh. Biasanya hanya pernah naik kereta Jakarta-Bogor dan Jakarta-Depok. Jadi ini boleh dibilang pengalaman baru untuk saya. Apalagi untuk MR yang benar-benar belum pernah naik kereta api. Di bayangannya, naik kereta itu bisa duduk enak dengan meja di depan lalu bisa tidur. Well, agak-agak jauh sih kenyataan dari bayangannya, malah boleh dibilang sangat amat jauh wkwk. Kereta api yang kami naik ini kelas bisnis. Tidak ada AC di kereta, tapi karena perginya malam hari, jadi tetap adem sih. Tidak ada ranjang atau meja. Hanya tempat duduk yang cukup empuk. Bangkunya sendiri bisa diputar supaya menghadap ke belakang, jadi kita bisa berhadapan dengan teman kita. Tapi harus diingat, dengan membalik bangku, berarti tempat kita untuk menaruh kaki jadi lebih sempit, karena tadinya untuk 2 orang, sekarang jadi untuk 4 orang. Demi kebersamaan, kami berempat merelakan sempit-sempit dikit.. haha.

Kalau kita beli tiket kereta api, biasanya tempat duduknya akan berurut. Misalnya 5A-5D. Contoh tiket saya itu BIS 1 /5B artinya kelas bisnis gerbong 1 nomor bangku 5B. Nah kalau dapat 5A-5D, itu tempat duduknya sejajar, jadi bukan hadap-hadapan. Lalu bagaimana caranya kami duduk bersama? Pindah saja, dan bilang ke orang yang duduk di tempat yang mau kita tempati itu kalau mau tukar. Jadi posisi kami diubah 5A, 5B, 4A, 4B. Biasanya sih orang-orang mau dipindah ke tempat lain… inilah bagusnya orang-orang Indonesia… ramah-ramah.. hohoho. Tapi ya kita yang harus minta maaf ke orang yang mau duduk, dan di tengah-tengah perjalanan kan orang yang duduk bisa turun dan diganti orang lain.. jadi harus minta maaf lagi deh ke orang selanjutnya.. begitu terus sampai tiba di tempat tujuan.

Pelayanan dari staf kereta api sendiri menurut saya cukup baik, ramah, dan sopan. Kalau kalian naik kereta dari Stasiun Jakarta Kota (stasiun paling ujung), jangan heran kalau bangku-bangku hampir semua kosong. Waktu kami pergi, di gerbong hanya ada grup kami ber-4, dan 2 atau 3 orang lainnya. Makanya kami sampai berpikir wah enak nih kalau misalnya sampai Surabaya begini terus.. lega banget. Tapi ternyata anggapan itu berubah ketika sudah sampai ke stasiun-stasiun berikutnya… ternyata makin banyak orang-orang yang naik, sampai penuh.

Buat yang mau makan dan minum, para petugas kereta ada menawarkan makanan dan minuman juga (yang saya tidak tahu harganya berapa). Bahkan ada dikasih bantal juga buat yang mau ambil, tapi rasanya sih tidak mungkin gratis itu, jadi kami tidak ambil. Ketika berhenti di stasiun, biasanya juga ada penjual yang masuk sebentar menawarkan mulai dari makanan, oleh-oleh, minuman, dsb. Saran saya kalau dari Jakarta ke Surabaya, bawa air yang lumayan banyak deh. Minimal 2 botol aqua yang standar. Lebih bagus lagi kalau bawa yang 1,5 liter biar ga kehabisan.

Nah lalu bagaimana kalau kita mau tidur? Ini sebenarnya agak sulit lho, karena keretanya goyang terus. Dan bangkunya juga tegak, rasanya tidak bisa dimundurkan (atau mungkin memang kami aja yang ga tau caranya -.-“). Jadi ya tidur aja sebisanya di bangku. Atau pilihan lainnya adalah seperti gambar ini:

Kaki Orang Tidur di Kereta Api

Kaki di Lorong Kereta Api

Jadi jangan heran kalau banyak kaki-kaki bergelimpangan di jalan, sampai kadang-kadang kita mau jalan saja harus melangkahi banyak kaki. Mereka sudah mempersiapkan alas, lalu tidur di lantai kereta. Kondisi ini sebenarnya nyaman juga lho, karena terbukti saya yang cuma duduk di bangku (apalagi karena dibalik jadi sempit), sulit untuk tidur. Sedangkan orang yang di foto ini, dari awal masuk kereta sampai turun, keliatannya pulas saja tidur di sana wkwk.

Untuk toiletnya sendiri, kalau saya sih suka menyebutnya expert mode, karena kita perlu skill yang cukup tinggi supaya bisa buang air kecil ataupun besar di sini dengan tenang. Hahaha. Kereta kan terus bergoyang, jadi kita juga susah benar mau ngapa-ngapain. Padahal dulu saya pikir di pesawat sudah sulit, tapi kalau dibanding ini sih.. jauhhhh wkwk. Lubang toiletnya itu juga bukan sembarang lubang lho.. Awalnya saya ragu, tapi saya perhatikan.. ternyata memang lubang itu langsung menuju ke rel kereta. Jadi benar-benar bolong ke bawah. Jadi buat kalian yang suka foto-foto di rel kereta… percaya deh.. itu ga keren.. ga keren sama sekali wkwk.

Perjalanan kereta terasa sangat panjang dari matahari terbenam sampai matahari terbit. Kami banyak ngobrol, terutama mengenai seseorang dari kami yang lagi galau berat… ehm ehm. Saya mencatat beberapa stasiun tempat kereta berhenti.. Manggarai, Bekasi, Tegal, Pekalongan, Semarang, Cepu, Babat, Lamongan, sampai akhirnya Pasar Turi. Perjalanan akhirnya berakhir sekitar pukul 7 pagi. Kurang lebih 1 jam terlambat dari jadwal.

Sabtu, 29 Desember 2012

Sesampainya di Stasiun Pasar Turi, dan setelah narsis foto-foto dikit, kami keluar dari stasiun, dan cari makannnnn *lapar semalaman cuma makan A&W*. Dari pintu keluar stasiun, kalau belok kiri ada satu tempat kumpulan beberapa pedagang makanan. Tapi karena masih jam 7 pagi, kebanyakan belum buka. Saya makan nasi rawon ditemani teh manis hangat. Lumayan pagi-pagi minum yang hangat.

Setelah itu, kami dijemput dengan mobil sewaan yang tentunya sudah bareng teman-teman. AG & istrinya pacarnya (EL), dan juga JC. Maka berangkatlah kami menuju bandara untuk menjemput teman-teman yang lainnya. Bandara Juanda lumayan jauh ternyata jaraknya dari stasiun, malahan kalau liat dari plang jalan, uda menuju daerah luar Surabaya tuh. Ternyata bandara Juanda itu uda kualitas internasional, keliatannya uda bagus sekali. Di sana awal-awal ketemu dengan NV, ED, dan SL yang memang sudah dari kemarin berada di Surabaya. (ED asalnya dari Surabaya). Saya sendiri kenal ED karena dulu satu jurusan. Walaupun belum pernah sekelas tapi kalau istilah facebook tuh kami ada mutual friends jadi ya kenal juga. Sedangkan kalau SL itu dulu adalah anggota tim saya ketika berada di organisasi, jadi memang cukup akrab.

Tidak berapa lama setelah itu, AJ & TF mendarat dan ngumpul juga. TF juga merupakan junior di organisasi. Rasanya ga jauh-jauh ya.. kalau misalnya kita dibesarkan organisasi, banyak yang ujung-ujungnya pasangan sama orang dari komunitas yang sama.

Lalu kami nunggu mungkin 1/2 sampai 1 jam.. oh iya, dan entah kenapa, semua toilet di bandara tidak ada air di pagi ini.. zzzzz.. padahal kami yang naik kereta itu mukanya sudah lecek semua semalaman. Tapi untunglah setelah siang sedikit waktu kami menunggu, airnya sudah keluar. Setelah itu ketemu dengan rombongan terakhir dari Manado… CN dan RC. Sudah lama kami tidak bertemu dengan CN, karena CN menjalankan toko di Manado. Bahkan sebelum pergi, CN beberapa kali sempat menulis tentang deg-degan dan excited dengan perjalanan ini. RC juga orang Manado dan yang satu ini tidak ada dari kami yang pernah bertemu. Jadi, seperti pada umumnya, satu perjalanan selalu akan menambah teman.😀

Untuk 3 hari ke depan, kami akan tinggal di 1 vila di kota Batu. Jadi sekarang kami naik 2 mobil sewaan + supir (Xenia & GranMax). Melajulah kami dalam perjalanan panjang dari Bandara Juanda ke kota Batu.

Makan siang kami di satu tempat makan yang saya agak lupa namanya, kalau tidak salah sih Warung Daoen. Kalau tidak salah sih kami masuk sini setelah melewati Malang. Dari jalan besar, lalu belok kiri dan masuk cukup jauh ke dalam. Ternyata walaupun terpencil, tapi tempatnya bagus. Waktu kami datang, keliatannya lagi ramai gara-gara ada acara kumpul-kumpul DPRD daerah sana kalau tidak salah. Di tempat ini, ada kebun dengan berbagai macam buah, seperti buah naga, lalu ada sejenis markisa, dan lain-lain. Kami makan di satu tempat seperti saung. Makan dengan cara lesehan. Terkadang makan dengan suasana seperti ini terasa lebih akrab ya.

Dalam perjalanan, kami ada melewati lokasi lumpur lapindo di Sidoarjo. Niat saya sih mau lihat tempatnya, tapi ternyata perlu bayar parkir, dan untuk bisa naik ke bagian atas, perlu bayar biaya masuk jg.. swt.. ini lokasi bencana berubah jadi lokasi pariwisata, apa? Seingat saya biayanya juga tergolong cukup besar, jadi akhirnya teman-teman semua putusin tidak perlu lihat, karena memang pasti tidak ada yang menarik juga.

Brmm.. brmm.. brmm.. setelah perjalanan beberapa jam, sampailah kita ke vila yang dituju. Setelah turun mobil, sementara yang lain-lain lagi lihat-lihat semua, saya yang perutnya dari tadi sudah agak ‘kontraksi’ langsung cari kamar mandi saja. Naik lantai 2, masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur. Begitu pintu digeser buat ditutup, saya sadar kalau ternyata pintunya itu semi transparan.. -.-“. Tapi.. ya sudah, selesaikan dulu bisnis yang mendesak wkwk. Untungnya para wanita tidak ada yang masuk ke kamar tidur atas, kalau engga sih.. bisa kaya nonton 1/2 sensor itu wkwk.

Sore itu, setelah beberapa dari kami sudah mandi (termasuk saya wahaha), dan sebagian besar ga mandi… perjalanan dilanjutkan. Tujuan kali ini adalah Batu Night Spectaculer (BNS). Judul tempatnya sih benar-benar kalau menurut saya itu ga keren.. agak gimana gitu… wkwk. Tapi ya kata orang kan don’t judge the book by its cover. Kalau menurut saya, tempat ini cukup menarik lho untuk ukuran kota kecil. Seperti mini Dufan. Tiket masuk Rp.15.000. Cukup masuk akal.

Kami cari makan malam di BNS. Saya ingat benar pesan kupat kare sapi seharga Rp.15.000. Waktu makanannya sampai, itu rasanya saya sampai merenung beberapa menit.. krn porsinya benar-benar parah.. sedikit sekali. Sampai teman juga ada yang ketawa. wkwk.. parahhh bener dah. Ya sudah lah, akhirnya demi memuaskan diri saya, saya beli teh tarik Rp. 7.000, karena saya ini adalah tipe pecinta minuman. Kalau uda ketemu minuman yang pas, rasanya sudah surga duniawi.. hahaha.

Ternyata menarik lho di tempat makan itu. Tiba-tiba sebagian lampu mati, lalu ternyata ada pertunjukan di sana. Di bagian ujung ada fountain show alias air mancur yang dibuat seperti menari-nari sesuai dengan irama musik. Bagus sekali kalau menurut saya, dan rasanya cukup romantis sih kalau buat pasangan-pasangan. Setelah itu ternyata bagian terpal di atas kami yang berwarna putih itu berubah menjadi layar dan menampilkan film. Di samping-samping tempat makan memang kelihatan ada beberapa proyektor besar yang nembak ke layar. Menurut saya hiburan ini sangat oke dan kreatif, bahkan untuk ukuran Jakarta sekalipun.

Awalnya waktu baru masuk BNS, ada 1 pasangan yang bilang kurang lebih seperti ini: “Ini kan tempatnya rame, nanti kita mencar-mencar aja. Ketemu lagi nanti di sini jam brp gitu“. Oke… harus saya akui kalau saya cukup lemot mengenai urusan begini. Tapi untung ada teman yang langsung bilang “iya, kita ngertiii koq“. Baru deh saya sadar kalau itu maksudnya biar mereka ada *ehm* privasi. Jadi awalnya kami bagi aja jadi grup single, dan yg pasangan nyebar masing-masing.

Setelah makan, kami melihat-lihat bagian jualan barang dulu. Ada banyak kios-kios penjual pakaian, dan juga barang-barang, terutama yang khas dari kota Batu. Saya sendiri ingin beli sesuatu, tapi saya tipe yang jarang beli barang, jadi tuh rasanya banyak sekali pertimbangan dan pemikiran kalau mau beli sesuatu. Akhirnya jadi lama deh. Entah kenapa kalau untuk beli barang, jadi perfeksionis… haha. Tapi ujung-ujungnya tetap saya beli, dengan terburu-buru karena ga enak yang lain sudah menunggu.

Belanja-belanja selesai.. sekarang waktunya main. Walaupun awalnya berencana terpisah, tapi akhirnya kami berkumpul juga. Mau masuk ke rumah hantu. Biaya masuk Rp.10.000. Ada 2 pilihan, antara rute jalan kaki, atau yang naik kereta. Kami pilih jalan kaki biar lebih berasa seramnya.. hi..hi..hi.. Sebenarnya sih, kalau yang perempuan ada beberapa yang tidak mau, tapi saya bilang semua harus ikut. Apalagi yang pasangan, kan enak tuh nanti kalau yang perempuan takut, bisa pelukan ke yayangnya… wahaha.

Back to the story… Ini entah bagaimana ceritanya, malah saya jadinya yang di posisi paling depan. Sayang tuh, padahal biasa paling depan kan paling bisa buat nakutin para wanita. Tapi ya sudahlah, jalan deh kita 7 orang 7 orang. Setiap jalan, yang saya waswas itu takut ada orang yang nyamar dan kagetin. Tapi entah kenapa, sampai selesai tidak ada satu pun yang nongol… hahaha. Jadi kurang greget kalau kata Mad Dog di The Raid. Malah ada teman yang ketawa sampai suaranya jadi habis. Ada yang bilang mungkin yang harusnya kagetin lagi istirahat makan malam kali. Kurang asyik deh… nanggung.

Selesai dari rumah hantu, kami jalan lagi ke tempat lain. Rumah kaca. Kenapa masuk ke yang satu ini? jawabannya gampang: karena gratis. Maka masuklah kami ke sana. Sebenarnya sih kalau sendiri mungkin cukup menarik, tapi ini karena cukup ramai, jadinya agak kurang seru, karena bisa ikutin orang di depan.

Oke… jadi rumah hantu dan rumah kaca sudah beres. Mau kemana lagi nih? Di depan ada tempat yang namanya lampion garden. Sekali lihat, saya langsung malas masuk. Karena di pintu masuknya saja sudah ada tulisan yang kalau tidak salah “Ungkapkan kasih sayang hanya di Lampion Garden”… Tempat yang benar-benar malas dikunjungi para jomblo. Belum lagi depannya sudah banyak bentuk-bentuk bunga dan love… Bayar Rp.10.000 pula. Tapi baiklah, demi kebersamaan, mari kita masuk! *menghela nafas sambil pasrah*.

Setelah masuk ke dalam dan jalan-jalan sebentar, baru sadar kalau ternyata AJ dan TF tidak masuk. Harus diakui kalau lampion garden ini memang dibuat dengan sangat menarik, tidak seperti perkiraan saya. Buat yang berpasangan, mungkin akan merasa tempat ini romantis. Buat yang lagi galau, mungkin akan merasa enaknya kalau punya pacar. Buat saya… jalan-jalan ga jelas sambil menunggu teman-teman yang entah kenapa semua suka sekali foto-foto di sini.

Lampion Garden BNSSuasana malam yang gelap menjadikan lampion bersinar cukup terang

Banyak sekali jenis lampion di dalam sini. Ada yang berbentuk binatang, kereta, hati, sampai tempat terkenal di dunia, seperti Monas, Menara Petronas, dan juga Menara Eiffel. Saya tidak tahu berada di tempat ini berapa lama, karena untuk saya terasa lamaaaa sekali.. mungkin berjam-jam. Bahkan kaki sampai pegal. Tapi teman-teman, terutama para ladies entah kenapa semangat tinggi sekali foto di hampir semua lampion. Baiklah.. sekali lagi.. demi kebersamaan!

Akhirnya setelah selesai dari tempat itu, kami ketemu AJ dan TF yang memang sudah menghabiskan cukup banyak waktu berdua. *ehm.. tambah mesra deh*. Kami kemudian dijemput driver menuju ke vila. Kurang lebih jam 10 malam kami jalan dari Batu Night Spectaculer. Sampai ke vila, apakah kami langsung tidur? Tentu tidak. Malam masih panjang. Kami membeli 1 kardus indomie.. rasanya sih cukup untuk 14 orang selama 3 hari.

Setelah makan, ada kejadian yang cukup menarik. Waktu itu saya dan MR lagi nongkrong di bagian balkon lantai 2. Dari sini bisa lihat pemandangan kota yang indah lho. Walaupun hampir tidak ada bintang di langit, tapi banyak ‘bintang’ bersinar dari bumi, alias gemerlap lampu di rumah-rumah. SY juga sempat ikut ke balkon sebentar. Lalu SY turun ke bawah. Tidak lama kemudian hampir semua turun ke bawah. Saya sendiri lalu mencuci piring di dapur di lantai bawah. Ternyata pada saat itu SY mengira saya masih di balkon atas. Lalu dia bertanya dari halaman belakang yang kira-kira seperti ini:

“DS, indomienya jadi ga?”

“Jadi”

“Mau satu atau dua bungkus?”

“Satu”

 Lalu masuklah ia ke dalam. Kemudian, ia melihat saya di dapur. Langsung shock lah dia. Kalau saya ada di dapur, lalu siapa yang menjawab pertanyaan dia tadi? Dia sempat nanya apa saya menjawab pertanyaannya. Tentu saja tidak. Saya saja tidak mendengar pertanyaan sama sekali karena lagi cuci piring. Yang lainnya juga ketika ditanya, tidak ada yang tadi menjawab pertanyaan dia.

……..

Maka dimulailah kejadian mistis yang pertama. Saya sih bercanda-in bilang mending masakin satu bungkus indomie aja.. tancep hio sekalian… hahaha.

Setelah makan, beberapa dari kami tidur, sementara sebagian besar nongkrong lagi di lantai dua untuk bermain kartu dan menonton tv. Untungnya saya bawa kartu Saboteur yang ternyata menarik sekali kalau dimainkan ramai-ramai. *untuk detail cara bermainnya, lain kali saja kalau lagi rajin baru saya tulis*. Percaya ga percaya, bermain kartu itu bisa membuat orang lebih akrab lho, dan yang belum akrab pun menjadi lebih akrab. Tadinya kami berencana main sebentar, sementara ada juga yang nonton bola di TV. Tapi tidak disangka, sampai acara bola selesai pun ternyata kami masih bermain… haha. Setelah itu, waktunya tidur! Besok (atau tepatnya, nanti, karena sudah lewat tengah malam) waktunya untuk petualangan yang lain.

Minggu, 30 Desember 2012

Selesai semuanya bersiap-siap, maka berangkatlah kami untuk makan pagi. Kami makan di dekat alun-alun kota Batu. Saya pesan soto babat. Waktu saya pesan soto babat seharga Rp.10.000, saya lihat teman-teman yang pesan sebelum saya minta nasi dipisah dan bayar tambahan Rp.3.000. Saya pikir oh mungkin 10 ribu itu belum termasuk nasi. Okelah 13 ribu masih cukup masuk akal. Teman-teman tanya kenapa saya pesan soto babat. Mereka, terutama EL yang seorang dokter dan waktu itu duduk dekat saya, mengatakan tentang bahaya asam urat. Yah.. antara kesehatan dan rasa mau coba-coba, terkadang memang sulit dicocokkan.

Waktu saya makan dengan menuang banyak kuah soto yang terpisah ke dalam nasi, mereka bilang kenapa tidak langsung saja tadi minta nasi digabung. Saya bilang kalau nasi dipisah itu kan kita akan mendapat lebih banyak nasi. Tapi ternyata, kalau nasi digabung, itu sudah termasuk di Rp.10.000. Waduh… niat mau licik, malah salah strategi ini… hahaha. Ya sudahlah, masih tetap memuaskan dari segi porsi dan rasa, terutama kalau dibanding dengan makanan yang kemarin malam saya makan -.-“.

Kata ED yang memang orang Surabaya, kalau di sini pesan soto, pasti normalnya itu sudah termasuk nasi. Bahkan katanya kalau di daerah sini kita pesan teh, default-nya itu akan disediakan teh manis, bukan teh tawar. Katanya karena orang-orang di sini banyak yang suka manis. Oooo… maka bertambah lagi pengetahuan saya mengenai daerah Jawa Timur.

Jadwal kami hari ini, sesuai dengan hasil rapat ketika kemarin malam ramai-ramai (ya, walaupun secara informal, tapi kami memang suka merapatkan sesuatu agar berjalan lancar saat pelaksanaan. Kebiasaan di organisasi dan kerja kelihatannya) adalah siang dan sore ini dihabiskan di Jawa Timur Park 1 dan Jawa Timur Park 2. Setelah itu pulang dan malamnya melakukan perjalanan ke Bromo.

Lanjutlah perjalanan kami dari tempat makan tadi menuju Jatim Park 1. Ternyata ada tiket terusan untuk Jatim Park 1, Jatim Park 2, Eco Green Park, dan juga BNS seharga Rp.150.000 untuk 2 hari. Kami sih rasanya cuma bisa jalan di sini untuk 1 hari. Sempet kepikir bagusnya beli tiket satuan atau mending beli tiket terusan. Tapi setelah melihat-lihat apa yang ada di Jatim Park 2 dan juga Eco Green Park, kelihatannya cukup menarik untuk dikunjungi. Jadi, akhirnya kami beli yang namanya “PAKET SAKTI” yang bisa dipergunakan untuk masuk ke semua tempat itu. Tiketnya sendiri bahannya mirip dengan tiket BNS kemarin malam, yaitu berbentuk seperti kertas yang dijadikan gelang. Tapi kata yang ngawas di sana, kita tidak perlu takut robek, karena bahannya tidak mudah robek, dan bahkan tahan air. Cukup luar biasa, terlihat bahwa orang di balik pembuatan tempat-tempat ini pasti sudah memikirkan segala sesuatu dengan baik dan strategis. Nah, tiket ini katanya kalau sudah ditempel (menjadi gelang), tidak boleh dicopot lagi, atau akan menjadi void alias tidak berlaku lagi.

Mulai deh perjalanan masuk ke Jatim Park 1. Di peta terlihat ada 56 tempat yang bisa dikunjungi lho. Banyak sekali, dan juga tertulis ada yang lagi dalam tahap konstruksi, yang berarti tempat ini masih akan berkembang lagi ke depannya. Salut.

Begitu masuk ke bagian depan, kita bisa melihat gong terbesar ke 2 di Indonesia seperti yang saya foto di bawah ini:

Gong Jatim Park 1Gong Terbesar ke-2 di Indonesia

Masuk ke dalam lokasi pertama, kita bisa melihat banyak penjelasan tentang kebudayaan di Indonesia. Kalau saya masih anak SD, SMP, atau SMA yang belajar pelajaran IPS, hal ini akan sangat amat membantu, karena mereka menampilkan semuanya dengan detail dan cukup menarik. Rasanya sudah seperti di Taman Mini Indonesia Indah.

Saya tidak ingat detail tentang semua yang saya lihat di Jatim Park 1, karena setelah bagian yang awal itu, kami kemudian sedikit ‘ngebut’ karena mau kejar waktu. Kalau tidak begitu, tidak akan sempat melihat semuanya. Yang saya ingat, ada budaya Indonesia, lalu budaya Papua, dan Jawa Timur, lalu ada suku Indian. Setelah itu saya lupa… yang saya ingat masuk ke dalam tempat seperti Museum Iptek, karena kami berada lama di sana. Bukan kenapa-kenapa, tapi hujan lumayan deras, jadi sekalian berteduh. Tapi bagian iptek ini juga dibuat dengan sangat menarik dan lengkap. Dari fisika, biologi, kimia, matematika, dsb. semua ada dan dengan alat peraga yang menarik pula.

Setelah hujan mulai reda, kami lanjutkan ke tempat-tempat selanjutnya. Ternyata banyak juga wahana bermain untuk anak kecil di sini. Sudah seperti Dufan. Ada juga yang seperti kolam renang, tapi ramai luar biasa. Kami akhirnya makan siang di food court dekat kolam renang.

Food court di sini ramai sekali, sampai-sampai kami harus berpencar ke 3 meja yang terpisah. Saya duduk bersama pasangan AG, EL, dan salah satu dari kami yang sedang galau😉 Maka berceritalah ia dengan kegalauannya. Saya rasa bagus juga meminta pendapat dari pasangan, dibanding kami yang memang cuek dan kurang peduli terhadap hubungan pacaran. Selesai makan, tiba-tiba NV datang ke meja kami seperti mau bertanya sesuatu ke AG. Jadi ya sudah, sekalian saja saya bilang gabung dengarkan cerita seseorang yang lagi galau, tapi tentunya dengan seizin orangnya. Terlihat wajah girang NV ketika mendapat izin mendengarkan cerita.

Walau kami semua terlihat sering meledek teman yang sedang galau, tapi tentunya kami berharap segala masalah bisa dengan baik, apalagi di dalam perjalanan, tentunya harus menikmati perjalanan, jangan malah memusingkan hal yang lain. Saya dalam beberapa kesempatan, berkata ke teman kami yang galau, bahwa ia sedang berada di sini bersama kami, teman-teman baiknya. Waktu dimana kami bisa berkumpul seperti sekarang ini sangat jarang terjadi, jadi nikmatilah momen ini sepenuhnya, jangan malah memikirkan sesuatu yang tidak bisa memberikan sesuatu yang baik untuknya.

Terkadang banyak dari kita (termasuk kalian, para pembaca) yang terkena masalah ini masalah itu yang membuat kita semua pusing atau galau. Sebenarnya untuk menyelesaikan masalah dengan lebih baik itu adalah kalian harus tenang dulu. Sebisa mungkin berpikir secara logis dan kurangi emosi dari perasaan. Dengan begitu masalah akan lebih cepat selesai. Tidak perlu kita merasa cemas terhadap masalah yang bisa diselesaikan, karena memang bisa diselesaikan. Tidak perlu juga kita merasa cemas terhadap masalah yang tidak bisa diselesaikan, karena dengan kita cemas, tetap saja masalah tidak bisa selesai. Jadi ya dibawa santai saja. Cara yang baik untuk berbahagia itu kalau menurut saya adalah dengan menikmati saja hidup pada saat ini. Nikmatilah keindahan hidup ini😀.

Oh tidak… koq saya jadi melantur ke sana ke sini ya? Back to topic! Setelah selesai makan, ya sudah kami pikir mau lanjut ke Jatim Park 2. Mau jalan keluar dari Jatim Park 1, tapi ternyata tidak semudah itu. Sekali lagi saya perlu puji orang dibalik Jatim Park 1, karena strateginya cukup pintar. Waktu kami mau keluar saja, harus berputar-putar berkeliling melewati daerah penjual barang-barang semua. Dengan strategi ini sih, semua orang yang buka dagangan pasti setidaknya barangnya ada dilihat oleh pengunjung. Buat yang matanya suka iseng beli barang yang dilihat, pasti bisa beli banyak barang ini.

Perjalanan lanjut dari mobil mau ke Jatim Park 2. Ternyata kondisi sekarang hujan, dan parahnya… ternyata kalau hujan, kondisi di Batu ga beda jauh sama kondisi di Jakarta: macetnya amit-amit. Rasanya cukup lama kami ada di mobil, gara-gara macetnya itu sampai tidak bisa bergerak. Kami pikir, ya sudahlah kalau memang hujan, langsung balik ke vila saja. Tapi ternyata, mau balik ke vila pun bakal lama sekali pasti perjalanan, karena macetnya hampir tidak bergerak. Akhirnya ketika berada di depan Jatim Park 2, kata driver, kami lebih baik turun saja hujan-hujan dikit jalan ke Jatim Park 2. Jadi akhirnya turun juga kami ke Jatim Park 2, suatu keputusan yang saya tidak sesali sama sekali😀.

Hujan yang turun membuat suasana di bagian luar Jatim Park 2 sangat ramai dengan orang yang sedang berteduh. Ada 2 tempat utama yang bisa dikunjungi di sini.. museum dan secret zoo. Karena suasana hujan, dan kebun binatang itu sifatnya atap terbuka, jadi kami memutuskan untuk masuk ke museum dulu.

Awal masuk, terlihat ada sangkar besar di tengah dan banyak orang yang berfoto. Biasa-biasa saja menurut saya. Sambil lihat sekeliling, saya lihat ada banner untuk bagian Secret Zoo. Di banner itu kelihatan binatang duduk di atas kereta. Jadi saya pikir, mungkin nanti di Secret Zoo kami akan duduk di kereta lalu diajak berputar mengelilingi kebun binatang. Satu imaginasi yang ternyata terlalu tinggi -.-“. Jadi akhirnya kami memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih cepat di museum, agar sempat ke Secret Zoo. Cukup berkeliling dengan cepat saja, tidak usah foto-foto di semua bagian.

Ternyata ketika masuk sedikit lebih dalam ke museum, saya melihat sesuatu yang membuat saya sangat terkesan. Untuk kalian yang sudah pernah nonton a Night at the Museum, mungkin bisa membayangkan apa yang saya lihat:

Dinosaurus di Jatim Park 2Dinosaurus di Jatim Park 2

Cantik… cantik sekali. Sangat mengesankan. Tetapi itu ternyata hanya awalnya, karena ketika kita berkeliling ke dalam, kita bisa melihat jauh lebih banyak yang menarik. Banyak sekali penampakan binatang yang entah asli atau palsu, tapi terlihat sangat ekspresif dan menarik. Bukan hanya binatangnya, tapi background untuk binatang itu juga dibuat dengan sangat menarik. Museum ini jelas salah satu (kalau tidak bisa dikatakan nomor satu) yang paling baik yang pernah saya kunjungi.

Selesai dari museum, kami melanjutkan ke Secret Zoo dalam kondisi hujan yang kadang berhenti, kadang gerimis, kadang cukup besar. Saya sendiri tidak membawa apa-apa karena semua barang saya taruh di mobil. Akhirnya NV meminjamkan selendang buat saya. Jadilah saya bungkus kepala kaya ibu-ibu. Lumayan deh, daripada kena hujan di kepala.

Kebun binatangnya sendiri cukup lengkap. Banyak sekali binatang, dan dipisahkan juga per jenis. Misalnya reptil berada di 1 wilayah sendiri. Saya tidak terlalu memperhatikan, tapi kata teman saya, binatang yang ada di kebun binatang ini gemuk-gemuk. Lebih sehat dibandingkan di kebun binatang yang lainnya.

Oh iya… untuk imaginasi saya tadi tentang kereta yang berkeliling Secret Zoo… memang imajinasi yang terlalu tinggi. Tidak ada yang seperti itu -.-“. Ya sudahlah.

Jam menunjukkan sekitar jam 5 sore ketika kami mulai berjalan ke food court di Jatim Park 2. Mengingat masih hujan, dan malam nanti kami juga akan pergi ke Bromo, dan mungkin tidak ada waktu untuk makan malam lagi, jadi kami memutuskan lebih baik makan malam di sini. Setelah makan, kami semua membeli jas hujan karena apabila di Bromo hujan, rasanya tidak akan ada tempat untuk berteduh. Cukup murah, hanya Rp.10.000, tapi ya itu untuk jas hujan dengan bahan yang seperti kantong plastik biasa.

Baiklah sekarang waktunya pulang ke vila. Perjalanan yang cukup menyenangkan hari ini. Sesampainya di vila, ada yang tidur, ada yang bermain kartu, dan ada yang bersantai-santai. Semua menunggu pukul 22.30 dimana kami akan memulai perjalanan ke Bromo.

Tibalah waktu yang ditunggu. Kami semua naik ke mobil untuk perjalanan ke Bromo. Karena saya tadi tidak tidur, jadi ya di mobil ini sebagian waktu saya habiskan untuk tidur. Jeleknya, kalau saya tidur itu… saya bisa mengganggu orang dengan nyanyian yang indah (alias mendengkur.. hahaha). Tidak lupa kami berhenti sejenak di minimarket untuk membeli roti persediaan nanti pagi di Bromo.

Senin, 31 Desember 2012

Awalnya saya tidur di seat belakang mobil bersama AG dan EL. Di tengah ada SY, AJ, dan TF, sedangkan di depan kalau tidak salah ada JC. Yang saya ingat, saya dibangunkan, lalu SY buka pintu mau keluar. Jadi saya pikir mungkin kita sudah sampai di tempat tujuan. Saya langsung buru-buru mau beres-beres barang karena disuru cepat-cepat. Saya sampai tanya mau bawa air tidak? Malah ada yang tertawa. Ternyata bukan sudah sampai, tapi mobil GranMax tidak kuat menanjak. Ya sudah para lelaki disuruh turun untuk dorong mobil.

Begitu saya turun mobil, masih setengah sadar. Maklum baru bangun dari tidur. Kata SY saya malah jalan turun, dan dengan cepat pula. hahaha. Untung ditahan. Saya sendiri sih masih sempoyongan itu, istilahnya jiwa masuk belum penuh. Saya lihat AJ sudah di posisi mendorong mobil, jadi ya saya ikut saja dorong. Tapi koq saya dorong sekuat tenaga, masih tidak jalan mobilnya. Saya pikir matilah, berarti kami harus berjalan terus donk sampai ke atas? Ternyata itu karena sopirnya masih belum lepas rem. Ketika ia lepas rem, langsung gas, mobil langsung jalan… dan tentunya kami langsung mencium bau-bau mesin mobil yang tidak kuat nanjak itu. Baunya jauh berbeda dibanding asap mobil biasanya.

Kami lalu bersama grup laki-laki dari mobil satu lagi berjalan ke atas. Melewati mobil kami. Dibangunkan tengah malam lalu disuruh hiking gunung… rasanya sudah seperti LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) waktu jaman sekolah…. hahaha. Udara gunung yang tipis dan angin yang dingin pastinya membuat jauh lebih cepat lelah. Rasanya belum jalan lama, tapi koq sudah habis nafas ya?

Setelah sampai sedikit di atas, kami istirahat sebentar sambil menunggu mobil. Tapi sudah menunggu mungkin 10 menit, tetap belum terlihat juga. Akhirnya kami memutuskan turun sampai ke tempat mobil berada. Begitu sampai di mobil, driver bilang bisa naik, jadi kami yang di mobil GranMax semua masuk kembali. Sampai ke pintu masuk, kalau tidak salah perlu bayar 70 ribu berikut mobil karena kami 7 orang. (Kalau tidak salah ingat bayarannya segitu). Kami turun di depan hotel yang saya lupa namanya. Di sana kami menunggu mobil satu lagi.

Waktu itu kalau tidak salah sekitar jam 3 lewat. Setelah menunggu cukup lama, datanglah mobil kedua. Tapi ternyata mobil kedua isinya cuma yang perempuan. Lalu dimana para lelaki? Ternyata mereka berjalan dari bawah. Wow… rasanya itu jaraknya sih cukup jauh. Beruntung juga kami tidak sampai sejauh itu jalannya. Oh iya, setelah beberapa lama berdiri di sana, saya tidak merasa kedinginan, dan bahkan bisa lepas jaket. Untuk kalian yang mau mengetes kemampuan fisik seberapa tahan terhadap dingin, boleh mulai dicoba dari sini.

Sambil menunggu yang sedang jalan, kami dan driver juga mencari sewaan jeep untuk naik ke Bromo. Kebetulan driver kami memang memiliki cukup banyak koneksi di sana sini. Ternyata mahal juga lho harga sewa jeep. Waktu kami ke sana, mungkin lagi high season, jadi harga sewa terasa mahal. Ada 4 tempat yang akan dikunjungi apabila kami menyewa jeep. Yaitu penanjakan 1 atau 2, savana, pasir berbisik, dan yang terakhir kawah Bromo. Bedanya penanjakan 1 dan penanjakan 2 adalah penanjakan 1 lokasinya lebih tinggi, sedangkan lokasi penanjakan 2 lebih rendah.

Akhirnya setelah rombongan yang satu lagi datang, kami lalu mendiskusikan penyewaan 2 jeep tersebut. Driver jeep mengatakan kalau mau paket penanjakan 1 maka 1 jeep sewanya Rp. 800.000, sedangkan kalau lewat penanjakan 2 maka sewanya Rp.700.000. 1 jeep sendiri bisa muat 7 orang (dua di depan, dan di bagian depan bangkunya berhadap-hadapan, jadi masing-masing bisa dipaksa 2-3 orang, walaupun jadinya sempit). Kami putuskan ambil yang penanjakan 2 saja, karena memang kayanya di jalanan sudah ramai dan sudah sekitar jam 5 pagi.

Mobil jeep memang memiliki tenaga yang jauh lebih kuat dibanding mobil xenia ataupun GranMax. Segala halangan rasanya bisa dengan mudahnya diterobos. Driver jeep sendiri memiliki komunitasnya di sana, yaitu Bromo Jeep Club. Jadi semua driver yang mengantar orang berkeliling di sana pasti saling mengenal.

Turun dari jeep, kami masih harus berjalan ke atas. Sebenarnya jalan seberapa jauh itu terserah kami, tapi semakin ke atas, tentunya sunrise akan lebih terlihat jelas. Waktu turun dari jeep sih saya merasa dingin lagi dengan angin yang bertiup, mungkin karena badan sudah agak hangat di dalam jeep, jadi saya pakai lagi jaket, tentunya dengan niat nanti kalau terbiasa, mau lepas jaket lagi. Saya memang suka mengetes kemampuan saya sendiri untuk melihat sejauh mana saya bisa bertahan. Dan memang benar, tidak lama kemudian, saya sudah terbiasa dengan kondisi udara, jadi walau saya lepas jaket, tetap tidak merasa terlalu dingin, walaupun tentunya masih terasa juga dinginnya, tapi mungkin rasanya seperti berada di dalam ruangan dengan AC yang cukup dingin, tidak sampai menggigil.

Sebenarnya kami tidak benar-benar melihat matahari yang tiba-tiba bersinar terang dari balik kegelapan, karena rasanya mungkin kondisinya berawan, tapi tetap yang namanya keindahan alam itu memang selalu menakjubkan, bisa membuat kita mensyukuri segala sesuatu, membuat kita merasa tenang dan damai.

Pemandangan dari Penanjakan 2Pemandangan dari Penanjakan 2

Kami kembali ke jeep setelah kondisi sudah cukup terang. Udara pun mulai terasa agak hangat, tidak sedingin tadi pagi. Kami juga rasanya sudah mengambil banyak sekali foto, cukup puas kalau untuk mengabadikan momen. Maka lanjutlah kami ke tujuan kami selanjutnya, yaitu savana.

Jalanan yang kami lewati menurut saya juga terasa sangat unik. Karena saat di gunung, tentunya jalanannya seperti pegunungan, tapi kemudian, setelah jeep membawa kami cukup jauh, kami tiba di satu tempat yang sangat lapang, sangat luas, seperti tidak ada apa-apa, hanya tanah yang sangat luas, bahkan tanpa pohon, seperti padang pasir.

Jeep terus melaju sampai akhirnya kami tiba di daerah yang banyak rerumputan dan tanaman-tanaman. Inilah savana di Gunung Bromo. Tentunya kami keluar dan berjalan, menikmati pemandangan yang indah ini.

Savana BromoKeindahan Savana di Bromo

Memang tidak banyak yang bisa dilakukan di savana ini, hanya berjalan, berfoto, dan menikmati pemandangan. Tentunya masih sangat menarik terutama untuk para pasangan-pasangan… bisa foto-foto sepanjang jalan kenangan nih.

Lanjutlah kami setelah itu ke tempat wisata ke-3 yang disebut pasir berbisik. Padang pasir hitam yang luas, namun tentunya tidak panas seperti di padang pasir yang sesungguhnya. Saking luasnya tempat ini, bahkan saya lihat ada yang membawa bola. Seperti pasir yang ada di pantai pada umumnya, pasir di sini juga bisa ditulis-tulis kalau kalian cukup niat.

Pemandangan Pasir Berbisik di BromoPemandangan Pasir Berbisik di Bromo

Seperti yang bisa dilihat di foto atas, tempat ini luas sekali. Dipenuhi pasir dan benar-benar lapang tanpa apa-apa. Sekali lagi, dengan berada di tempat-tempat seperti ini, kita jadi bisa merasa betapa luas dan indahnya alam ini.

Bromo Jeep Club

Kumpulan Jeep di Savana Bromo

Sebenarnya kalau dilihat-lihat, jeep mereka ini keren juga lho. Driver-nya juga bukan orang sembarangan. Kalau menurut saya, gaya mereka cukup keren. Seperti driver dari jeep yang kami naiki. Ia menggunakan topi kupluk, lalu tentunya pakaian biasa, dan sarung menutupi bagian atas badan. Menggunakan sepatu kets di bagian bawah, dan hanya satu sarung tangan di tangan kiri. Jangan salah, mereka itu bukan orang yang tidak beruang lho. Menurut hasil pertanyaan teman saya, ternyata setiap harinya mereka paling sedikit bisa memperoleh uang sebesar 3 juta rupiah. Karena, bayangkan saja, setelah mengantar kami ke suatu tempat, mereka lalu pergi menjemput orang lain. Persaudaraan mereka juga kuat dengan adanya Bromo Jeep Club. Hobi dan uang, kalau sudah bergabung, jadi makin oke deh.

Pada saat itu waktu menunjukkan jam 8 lebih. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke kawah Gunung Bromo. Begitu turun dari jeep, sudah ada orang-orang yang menawarkan jasa penyewaan kuda. Mahal juga lho.. Rp. 150.000 bolak-balik. Kalau hanya pergi harganya Rp. 90.000, dan kalau berfoto, harganya Rp.10.000. Tentunya ini semua belum ditawar. Begitu mendengar harganya saja sudah malas menawar.

Terlihat dari kejauhan ada tempat seperti pura Hindu. Rasanya itu sudah jauh sekali. Tapi begitu lihat lebih jauh lagi, ada banyak titik-titik kecil yang ternyata berupa orang yang sedang mendaki sampai ke bagian atas gunung.

Setelah semua selesai dari toilet seharga Rp.2.000, kami kemudian mulai melakukan perjalanan jauh kami. Setelah berjalan cukup jauh, rasanya ide naik kuda tadi sebenarnya tidak terlalu mahal juga kalau benar-benar mau menghemat tenaga. Tapi kalau sekarang mau naik juga pasti rugi… sudah tanggung. Ayo kita tunjukkan semangat muda!

Kami tidak berjalan ke pura, karena kami pikir lebih baik ke gunung dulu, lebih banyak makan tenaga. Memang benar, jalanan yang mendaki ke atas terasa sangat menghabiskan tenaga. Karena udara tidak panas, tidak sampai keringatan kalau tidak salah. Tapi nafas benar-benar habis, sampai-sampai saya juga harus sering berhenti untuk mengejar nafas dan mengembalikan tenaga.

Ada sekumpulan tangga yang katanya kalau kita bisa menghitung dengan benar jumlah tangga ketika naik dan turun, maka apa yang kita inginkan bisa terwujud. Perjalanan naik tangga ke atas terasa sangat jauh dan melelahkan. Udara gunung benar-benar membuat kita terus kehabisan nafas. Banyak orang yang beristirahat di tangga karena tidak kuat melanjutkan.

Akhirnya setelah perjalanan yang terasa sangat melelahkan, sampai juga kami di bagian paling atas. Cukup sebanding sih sama pemandangan yang bisa kita lihat di puncak gunung ini. Bisa terlihat gunung yang lain, dan bisa melihat seberapa jauh kita telah berjalan dari bawah sampai mencapai atas sini.

Pemandangan dari Puncak Gunung Bromo

Pemandangan dari Puncak Gunung Bromo

Lihat bangunan di bawah yang jauh itu? itu adalah pura yang saya sebutkan di atas. Lihat titik-titik kecil yang lebih jauh? Itu adalah posisi awal kami turun dari jeep. Ugh… kalau dilihat seperti ini, rasanya jauh sekali ya.

Kawah Gunung Bromo

Kawah Gunung Bromo

Di satu sisi kita bisa melihat pemandangan tempat kita datang, di satu sisi kita bisa melihat kawah gunung Bromo. Untuk saya yang agak takut ketinggian, tempat ini boleh dibilang cukup menyeramkan, karena tempat kita berdiri itu tidak terlalu lebar. Ada yang mungkin cuma 1 1/2 meter, ditambah dengan sebegitu banyaknya pengunjung. Pembatas di pinggir juga tidak dibuat ketat, dengan kata lain kalau misalnya ada yang kepleset atau ada teman yang mungkin iseng dorong orang, bisa langsung jatuh ke kawah. Tapi herannya, ada saja orang-orang yang berani berdiri di atas pembatas, ataupun yang duduk di pembatas dengan kaki menghadap ke kawah. Saya bergerak sedikit ke pinggir saja sudah ngeri sekali.

Setelah berpuas-puasan foto dan menikmati pemandangan (dan menikmati ketakutan juga untuk saya), maka waktunya kami turun. Perjalanan turun rasanya jauh lebih santai dibandingkan dengan perjalanan naik ke atas. Mungkin karena memang turunan, dan tenaga juga sudah pulih dari istirahat di atas.

Oh iya… saya juga sudah menghitung tangga dari bawah ke atas, dan dari atas ke bawah, dan jumlahnya sama… yang berarti keinginan saya akan terwujud nih… hohoho. Mau tau jumlahnya brp? Nih hint-nya: 3 pangkat 2 dikali 30 dikurang 100 ditambah hasil dari 2 pangkat 6 minus 4 lalu ditambah lagi 10. Itu deh hasilnya. *sambil nulis sambil pusing sendiri hasilnya… hahaha*. Tapi kata orang sih, tangganya bisa berubah jumlahnya, karena di bagian bawah itu ada yang sudah tertutup pasir. Sebenarnya dulu lebih dari ini, tapi sekarang karena sudah ada tangga-tangga yang tertutup, jadi lebih sedikit.

Waktu kami turun, mungkin itu waktunya sekitar jam 10 pagi. Begitu sampai di bawah, kami lihat ke gunung lagi, ternyata sudah berkabut. Untung saja sudah turun, kalau lebih lambat, bisa lebih repot tuh turunnya. Waktu kami dibawa jeep ke hotel di awal masuk gunung Bromo (tempat parkir mobil sewaan kami), begitu turun mobil, kabutnya sudah sangat terasa. Mau tau seperti apa kabutnya? Bayangkan kalian menggunakan kacamata, tapi sebelumnya bagian lensanya disentuh dulu 20 orang. Nah jadinya buram seperti itu tuh. Susah banget mau liat ke depan aja. Mungkin jarak pandang cuma 3 meter. Sisanya benar-benar buram.

Kabutnya memang hanya sampai wilayah Bromo saja. Ketika kami sudah naik mobil dan bergerak ke tempat selanjutnya, kabut sudah tidak ada. Kami menuju ke tempat makan siang. Driver menanyakan apakah kami mau ke tempat air terjun. Katanya tempat itu juga sangat bagus. Tapi benar-benar perlu cepat kalau mau ke sana, karena jarak cukup jauh. Jadi ia menyarankan lebih baik makan dibungkus saja kalau memang mau pergi ke sana. Melihat kondisi teman-teman setelah memanjat gunung Bromo, saya rasa kami semua sudah kecapaian. Setidaknya kalau menurut saya, kami harus makan siang dengan tenang dan santai agar sekaligus beristirahat. Kalau menurut saya, kita berjalan-jalan mencari santai, jangan malah kita jalan-jalan dikejar objek wisata. Kalau sudah selesai makan nanti memang masih sempat ya boleh lah. Kalau tidak pun, menurut saya tidak apa-apa.

Sampailah kita di rumah makan tempat kita akan melangsungkan makan siang… uhui.. tempatnya adalah:

Rawon NgulingRumah Makan Rawon Nguling

Rumah Makan Rawon Nguling di Probolinggo. Inilah tujuan kami. Kelihatannya rumah makan ini cukup terkenal, bahkan presiden SBY saja pernah makan di sini. Kesan pertama saya ketika duduk di sini, mungkin karena pengaruh sedikit bad mood juga akibat kelelahan dan kurang tidur, jadinya agak gampang kesal. Saya merasa pelayanan di tempat ini kurang baik. Kemungkinan besar karena pegawai yang dipekerjakan terlalu sedikit. Meja yang sudah dipakai orang, tetap dibiarkan berantakan sampai lama.

Kami tadinya duduk di bagian luar, tapi kemudian AG lihat ada tempat kosong yang lebih bagus di bagian ruangan dalam di kanan. Di sana ruangannya ada AC, walaupun tetap mejanya belum dibersihkan juga -.-“. Sambil menunggu, ayo kita lihat-lihat apa saja menu makanan di sini:

Menu Rawon NgulingMenu Rawon Nguling

Hmm… mengingat nama tempat ini adalah RM Rawon Nguling, jadi pastinya saya mau pesan nasi rawon, ditambah dengan segelas jeruk hangat.

Rawon Nguling dan Jeruk PanasNasi Rawon dan Jeruk Panas

Catatan: foto tidak menampilkan porsi sebenarnya, karena saya banyak mendapat “operan” jeroan dari kiri kanan depan… wahaha. Teman-teman banyak yang tidak suka dengan rasanya dan takut dengan asam urat. Kalau saya sih… hajar bleh! *tidak tahu juga nanti nasibnya gimana beberapa hari banyak makan jeroan*.

Walaupun pelayanan agak kurang gesit, tapi kalau urusan rasa, memang cukup sesuai dengan yang saya harapkan. Yummy! Kuah, daging, dan jeroan, semua terasa enak. Tapi ini tidak tahu pandangan saya objektif atau tidak, karena saya memang suka jenis makanan berkuah seperti ini. Yang saya benar-benar suka itu jeruk panasnya… mmmmmm.. asam jeruknya terasa, hangatnya terasa, manisnya juga terasa. Untuk pecinta minuman seperti saya, rasa dari minuman ini sudah cukup memuaskan.

Mengingat EM baru selesai menamatkan kuliah S2 nya, dan saya juga belum lama ini ulang tahun (well, nama desmaster kelihatannya lahir di bulan juni kah?), maka kami yang baik hati nan murah hati ini memutuskan membayar makanan untuk semuanya. Beruntunglah semua… hahaha. Dan percayalah, mereka memang beruntung karena saya pelit cukup jarang traktir orang.

Kenyang dengan makanan, selanjutnya kami memikirkan apa rencana kami. Kalau mau ke air terjun, jaraknya cukup jauh. Takutnya nanti malah tidak sempat tahun baruan di vila. Sangat tidak asyik kalau ujung-ujungnya kami tahun baruan di jalan. Jadi akhirnya kami pikir lebih baik lebih banyak menghabiskan waktu di vila saja. Jadi sekarang kami pikir lebih baik belanja makanan untuk nanti malam tahun baru.

Kami mencari-cari pasar swalayan yang cukup besar untuk belanja. Sampailah kami di BATOS (Batu Town Square). Saya ingat waktu itu ada 4 pilihan yang harus kami pilih salah satu, yaitu:

1. Kami makan malam di sini (BATOS), nanti di vila bisa makan indomie kalau lapar (karena sekarang baru sekitar jam 5 sore), lalu tengah malam BBQ.

2. Kami pulang dan makan malam indomie, setelah itu menjelang tengah malam BBQ.

3. Kami pulang dan membuat BBQ sebagai makan malam, jadi tidak makan di tengah malam.

4. (ide dari NV) Kami makan malam di sini dan nanti tengah malam di vila tidak usah BBQ, melainkan masak makanan seperti gorengan dsb.

Akhirnya dari voting, kami setuju dengan pilihan ke-4. Jadi apa yang harus kami lakukan sekarang? Belanjaaaaa! Saya sendiri sih bingung kalau disuruh belanja, karena memang saya jarang belanja dan tidak tahu mau beli apa. Tapi tidak usah takut, kalau urusan belanja, di grup kami ada wanita-wanita dengan skill yang tidak kalah dengan ibu rumah tangga… hahaha.

Hmm… saya ingat-ingat ya belinya apa saja. Ada coca-cola 1 botol, sprite 2 botol, fanta merah 1 botol, telur, buah sunkist, buah jeruk, buah pear, chicken nugget, sosis, tahu yang bentuknya seperti bakso, french fries, tisu, gelas-gelas plastik, sambal, saus tomat… apa lagi ya? Yang saya ingat sih itu. Kalau untuk piring dan pisau, di vila sudah ada lumayan banyak. Kalau sendok kan kami memang tidak butuh, karena semua yang kami beli bisa langsung dimakan pakai sendok alami alias tangan.

Beberapa tips hemat belanja yang saya pelajari dari EL:

1. Kalau beli jeruk yang ada plastik tiap buahnya, waktu kita mau beli, lepas semua plastiknya. Ini akan mengurangi berat dari total jeruk yang kita beli, walaupun memang tidak terlalu banyak.

2. Waktu mau membayar, pisahkan sesuai dengan diskon. Misalnya, dalam hal ini soft drink yg kami beli ada diskon kalau pakai kartu debet BNI, jadi waktu membayar, EL pakai kartu debet BNI hanya untuk membayar yang soft drink. Sisanya pisah bon, dan dipakai dengan menggunakan kartu hypermart. Cara belanja yang sangat ekonomis.

Saya akui kemampuan EL dalam berbelanja memang luar biasa, melebihi standar ibu-ibu rumah tangga pada umumnya… hahaha. Bahkan menurut AG (pacar EL), EL itu memang pasangan yang sempurna… kecuali… bagian dimana EL mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dimakan AG. hahaha… tapi setidaknya AG juga mengerti kalau EL melakukan itu untuk kebaikannya juga. (Jangan lupa EL adalah dokter, jadi kalau saya sih sudah tidak meragukan kalau untuk urusan kesehatan… serahkan pada ahlinya kalau kata Foke dulu waktu mau jadi gubernur Jakarta).  Jadi waktu malam pertama kami makan mi instan, sebenarnya sudah mempersiapkan bagian untuk AG juga, tapi waktu AG sudah mau makan (baca: garpu sudah di depan mulut), tiba-tiba EL datang dan menarik tangan AG menjauhi mulutnya. Kami yang waktu itu sedang berkumpul tentunya pada tertawa. Mereka benar-benar sudah seperti pasangan suami istri. Bisa kalian bayangkan kalau mi instan yang wangi itu sudah di depan mata kita, wanginya sudah tercium, sudah siap disantap, tiba-tiba kita tidak bisa memakannya… hahaha pasti ngiler berat. Dengan muka pasrah terpaksa merelakan makanan pergi. Ah memang kocak lah itu.

Okeeee back to the trip. Jadi setelah belanja, kami taruh barang di mobil, dan kami makan malam di foodcourt mall ini. Hampir lupa, ternyata semua makanan yang kami beli, tidak jadi dibayar dengan patungan, melainkan AG memutuskan untuk membayar semuanya… woohoo. (AG juga ultah di bulan Desember).

Untuk makan malam, saya memesan ayam kremes dengan harga Rp.14.000. Untuk rasa sih… standar, cukup lumayan. Yang saya suka itu adalah minumannya. Saya beli Tutti Fruity Juice seharga Rp.10.000 dan minuman itu benar-benar memberi saya kebahagiaan. Mmm.. setiap kali menyedot minuman itu, rasanya sangat nikmat. Tidak diragukan lagi, ini adalah minuman terbaik yang saya minum selama perjalanan ini. Benar-benar membuat saya merasa lebih dekat dengan surga… hahaha. Kenikmatan duniawi.

Perjalanan berlanjut dari BATOS ke vila. Dalam perjalanan, di mobil kami, sempat kami korek-korek mengenai kisah cinta (yang sering saya sebut sebagai success story karena berhasil berpasangan sampai sekarang). Kisah cinta dari AJ dan TF… yihiy. Tapi demi privasi mereka maka tidak bisa saya ceritakan di sini :p

Sampailah akhirnya kami di tempat terakhir yang akan kami singgahi hari ini, yaitu vila kami. Baru saja sampai dan beristirahat sebentar, sudah ada yang bercerita. Ternyata waktu malam pertama kami di sini (yang ada kejadian suara minta mi instan itu lho), RC waktu itu ada sendirian di lantai 2, sedang tidur-tiduran dekat jendela. Tiba-tiba terlihat penampakan celana putih dari luar jendela, sedangkan waktu itu sudah jelas tidak ada siapa-siapa. Hmm… mulai deh kisah mistis ke-2.

Kisah itu langsung ditambah sama kisah AJ di malam yang sama. Waktu semua sedang tertidur, posisi AJ adalah posisi yang paling dekat dengan jendela. Waktu itu tirainya terbuka, jadi AJ pikir mau tutup saja tirainya. Ternyata setelah itu, waktu mau melanjutkan tidur, terdengar suara seperti ketukan di jendela. Tidak terlalu sering, tapi seperti ada tempo dalam ketukannya. Agak ngeri, AJ kemudian minta tukar tempat dengan ED, tanpa memberitahukan alasannya. Ya sudah ED juga tidur saja seperti biasa tanpa gangguan. Mungkin memang hanya suara angin di jendela. Besok paginya AJ mengecek untuk memastikan, tapi kelihatannya jendela cukup rapat, jadi rasanya bukan suara karena angin. Saya juga ingat rasanya jendela cukup rapat. Jadi deh, cerita mistis ke-3 di sini.

Aduh, setelah mendengar kedua cerita itu, jadi agak seram rasanya. Waktu mandi saja rasanya jadi agak menyeramkan. Biasa, kalau kita lagi ketakutan kan bisa halusinasi yang aneh-aneh, misalnya kalau lagi tutup mata waktu siram air, takutnya waktu buka mata lagi tiba-tiba ada sesuatu…. hahaha. Jeleknya kebanyakan nonton film-film horor begini nih -.-“.

Kami bermain-main kartu sambil ngobrol, bergiliran mandi dan juga menonton TV. Sekitar jam 10 malam, mulailah sedikit demi sedikit kami masak. Para wanita kelihatannya cukup senang kalau sudah berkumpul di dapur ramai-ramai. Bisa sambil masak sambil ngobrol. Ganti-gantian, terkadang lelaki juga ada yang bantu masak, ada yang potong buah, menyiapkan ini itu, dsb. (kecuali MR, yang awalnya malah paling semangat mau masak, tapi terlalu pagi. Ujung-ujungnya malah jadi tidur dia. hahaha.).

Sejak jam 9 atau 10 malam, sudah mulai banyak bunyi kembang api yang meledak. Dari pemandangan lantai 2 juga bisa kelihatan dari kota yang nun jauh di sana, ada kembang api yang terlihat indah. Semakin malam, semakin banyak kembang api di langit. Menjelang tengah malam, lebih banyak lagi kembang api terlihat di langit. Kami ke luar vila untuk melihat kembang api tersebut. Ramai sekali langit di atas. Rasanya di vila-vila yang berada di sekitar kami juga banyak yang membeli kembang api, jadi terlihat jelas dari tempat kami.

Duar… duar… duar… bunyi kembang api. “Wow”, “Wah”, “Wih cantiknya” bunyi teman-teman yang melihat keindahan kembang api tersebut. Kalau dalam sudut pandang ekonomi, mungkin kita bisa melihatnya dengan cara yang lain. 50 ribu… 100 ribu.. 200 ribu. (Harga masing-masing kembang api). Haha.. rasanya tahun baru memang hari di mana orang-orang menghabiskan banyak uang untuk diterbangkan di angkasa dan menampilkan keindahan untuk sekejap. Saya hitung-hitung sih, mungkin ada ratusan juta, atau mungkin mencapai milyaran, hanya untuk kembang api yang menyala di kota Batu itu.

Percaya ga percaya, sampai tengah malam pun ternyata kami belum selesai masak. MR juga baru bangun tidur setelah jam 12 setelah dibangunkan AJ. Kalau tidak, bisa-bisa tertidur sampai besok pagi dia. Mungkin sekitar jam 00:30 baru selesai semua acara masak-memasak. Kami kemudian bawa semua makanan, minuman, dll. ke lantai 2, lalu duduk bersama-sama mengelilingi makanan.

Makan Rame-rameMakan Ramai-Ramai di Malam Tahun Baru

Makan dengan cara seperti ini memang membuat kekeluargaan sangat terasa lho. Buat kalian yang belum pernah coba, coba saja. Walaupun kelihatannya seperti hal yang biasa saja, tapi sebenarnya ini sangat berkesan untuk saya.

Setelah makan-makan itu, saya menyadari bahwa ternyata waktu kami sedang makan ramai-ramai, ada kejadian mistis ke-4. hahaha. Kacau nih. Ternyata katanya NV dan CN ada mendengar suara seperti langkah kaki naik ke atas. Langkah kaki yang menggunakan sendal jepit. Posisi duduk NV dan CN tidak berdekatan lho, dan kami ber-14 ada di atas semua, dan memang kami tidak ada yang menggunakan sendal jepit di vila, semua lepas sendal. Hmm.. lebih dari 1 orang yang mendengar suara, rasanya sih tidak seperti halusinasi (walaupun saya sendiri memang tidak mendengar, atau mungkin tidak memperhatikan). Tidak perlu dipikirkan deh.

Setelah semua selesai, maka persiapan tidur. Kayanya teman kami yang lagi galau masih butuh dukungan teman untuk membantunya, maka kami memutuskan membuat formasi. Jadi kami tim lelaki ber-6 tidur berjejer di lantai 2. Ini posisi favorit kami dan memang biasa kami pergunakan kalau ada yang lagi mau di-curhat-kan. AG, saya, AJ, SY, EM, dan juga MR tidur berjejer sambil mendengarkan curhatan salah satu dari kami. Hanya satu orang yang belum pernah mendengar cerita ini, sedangkan yang lain sudah tahu. Saya sendiri sudah sampai hafal ceritanya karena sudah beberapa kali :p. Sayangnya malam itu sebagian besar dari kami sudah terlalu lelah, jadi hampir semua tidur di awal cerita. *maaf ya yang lagi galau*. Tapi untungnya ada yang mendengarkan juga sampai akhir, jadi tidak terlalu merasa berdosa saya. hahaha.

Berakhirlah hari kami yang panjang ini. Berakhir pula tahun 2012. Seperti kehidupan yang terus berubah, waktu juga terus berubah. Tibalah 2013. Tahun yang baru memberikan harapan yang baru bagi semua😀.

Selasa, 1 Januari 2013

Ada pertemuan ada perpisahan. Pepatah mengatakan “Tidak ada pesta yang tidak berakhir“. Beberapa hari ini kami telah menjalani perjalanan yang luar biasa. Memang tidak salah kalau disebut sebagai perjalanan akbar. Kami berharap acara jalan-jalan ini bisa dilakukan setiap tahun. Target kami selanjutnya adalah Medan, kota asal AJ dan TF. Siapa tahu pada perjalanan selanjutnya ada yang sudah pakai cincin di jari manis😉. Siapa tahu juga yang kali ini tidak membawa gandengan, nantinya sudah bawa gandengan.  *halah, truk gandeng kali*.

Pagi-pagi sekitar jam 8.30 kami sudah siap untuk jalan ke bandara. Pesawat JC akan berangkat jam 11 kalau tidak salah ingat. Setelah itu ada pesawat ED, SL dan NV yang berangkat bersama pesawat AJ dan TF di sekitar jam 5 sore. Baru pesawat SY, MR, EM, dan saya berangkat di sekitar jam 7 malam. CN dan RC akan menginap beberapa hari lagi karena ada acara lain. EL juga kelihatannya tidak pulang di hari ini, sedangkan AG memang bekerja di Surabaya.

Sekitar jam 10 lewat kami sudah ada di bandara. Berkumpul ramai-ramai dulu di rumah makan di bandara, sambil ada yang makan. Tadi pagi kami tidak makan, hanya ada biskuit-biskuit. Jadi sebagian dari kami makan di bandara. Setelah itu, waktunya say bye bye ke JC.

Perjalanan masih belum selesai. Sekarang kami pergi makan siang. Tujuan kami? Rumah Makan Spesial Udang Khas Bu Rudy di Surabaya. Rumah makan ini cukup luas, dengan bagian depan merupakan penjual oleh-oleh berupa makanan. Di sini kami berpisah dengan NV, ED, dan SL yang akan menuju ke rumah ED untuk pamitan ke orangtua dan *ehm* calon mertua, tapi nanti mungkin kami akan bertemu lagi di bandara.

Kembali ke Rumah Makan Bu Rudy. Untuk kalian yang senang dengan makanan pedas, pastinya senang makan di sini, karena memang kelihatannya andalan dari restoran ini adalah sambalnya yang enak.

Nasi Empal Udang Bu RudyNasi Empal Udang Khas Bu Rudy

Saya pesan nasi empal udang Rp.15.000. Penampakannya sesuai gambar di atas. Rasanya enak juga. Taburan udang dan ebi rasanya enak. Cukup pas dengan harganya yang masih tergolong murah. Untuk minumannya kalau tidak salah saya pesan jus jambu merah (jumbo) seharga Rp.10.000. Kalau tidak salah ingat, hampir semua menu minuman di tempat ini ukurannya jumbo, mungkin untuk menyiasati rasa pedas dari sambal yang agak luar biasa. Sedikit informasi, untuk kalian yang mengharapkan minuman dengan rasa yang enak, jangan terlalu berharap. Minuman yang saya pesan rasanya tawar, karena komposisi airnya memang jauh lebih banyak daripada buahnya -.-“. Saran saya mungkin lebih baik memesan minuman seperti teh tawar atau teh manis yang lebih murah.

Tahu Tempe khas Bu RudyTahu dan Tempe Bu Rudy

Tahu dan tempe (saya lupa nama pasti menunya, tapi pastinya ada tulisan tahu dan tempenya), harganya Rp.10.000. Bisa pilih antara pedas sekali, atau pedas sedang. Rasanya lumayan enak.

Selain makanan dan minuman ini, kalau yang suka jajan gorengan, di bagian oleh-oleh, terdapat pula gorengan seperti nangka yang digoreng dengan tepung. Rasanya juga cukup enak. Kalau tidak salah, harga satunya itu Rp.3.000.

Selesai makan, kami ke bagian depan rumah makan untuk berbelanja segala jenis oleh-oleh makanan. Keripik buah dan sambal merupakan makanan yang cukup khas untuk dibeli di sini kelihatannya. Rempeyek juga kelihatannya cukup menggoda untuk dibeli. Kami berbelanja cukup banyak, malah ada yang sampai harus dibungkus dengan kardus. hahaha.

Dari rumah makan, kami kembali ke bandara. Ternyata 2 driver mobil menerima job lain dari sore ini, jadi mereka harus bersiap-siap. Hmm, seharusnya sih tidak boleh, tapi ya sudahlah tidak apa, toh kami juga beberapa hari ini sudah cukup puas, dan mereka juga kelihatannya beberapa hari ini sangat ramah dan banyak membantu kami dalam perjalanan.

Sesampainya di bandara, jadi bingung mau ke mana. Mau nongkrong di tempat makan kami biasanya di bandara yang merupakan ruangan ber-AC yang sepi, tapi agak bosan ke sana terus. Jadi kami coba ke A&W. Penuh sekali restoran A&W. Setelah kami menunggu sebentar, kami lihat ada bangku kosong untuk 4 orang, langsung saja kami masuk. Bangku panjang untuk 4 orang kami pepet untuk 5 orang, lalu tarik 1 bangku lagi untuk 1 orang. Meja dipenuhi oleh tas kami, lalu kami beberapa dari kami membeli minuman… ya basa-basi saja supaya tidak diusir.

Setelah cukup lama berada di sana, mungkin 1 jam lewat, tiba-tiba ada pegawai A&W yang mendatangi kami. Sepertinya ia adalah managernya. Ia membawa seperti list makanan dan tanya apa kami ingin memesan, lalu dilanjutkan dengan bilang kalau mau pesan, langsung ke kasir saja ya. Well, ini artinya kami sudah “diusir” secara halus. hahaha. Malu juga jadinya. Tapi memang sih kami agak-agak parah. Masalahnya tempat itu sedang ramai sekali, kami malah duduk lama dengan hanya membeli minuman. Ya sudah, waktunya pindah dari restoran.

Baru beberapa saat keluar dari restoran, kami sudah bertemu dengan NV, SL, dan ED. Mereka sudah check-in di dalam, lalu keluar lagi untuk bertemu kami. Karena pesawat kami ber-4 jam 7 malam, sepertinya belum bisa check-in. Sekarang AJ dan TF masuk ke dalam untuk check-in.

Daripada kami di luar tidak dapat tempat duduk, lebih baik kami juga masuk ke dalam, walaupun belum bisa check-in, tapi setidaknya bisa duduk, karena di bagian dalam pasti tidak seramai di bagian depan sini. Jalanlah kami ber-7 ke pemeriksaan tiket. Setelah melewatinya, tentunya harus cek barang lewat mesin apa itu, dan kita juga tentunya harus melewati pintu yang ada mesin untuk cek.

Buat yang belum tahu prosedur di bandara kalau kita mau naik pesawat, nanti saya jelaskan ya di post-post blog saya selanjutnya.

Setelah pemeriksaan barang, tempat di dalam terlihat sangat luas. Berjejer tempat untuk check-in masing-masing maskapai. Kami menuju lantai 2 untuk mencari tempat duduk. Di lantai 2, ada banyak sekali toko-toko, sudah seperti mall. Tadinya sih saya mau langsung berkeliling lihat-lihat semuanya, tapi menurut teman, lebih baik duduk saja. Nanti kalau pesawat mereka yang jam 5 sudah berangkat, baru deh kami ber-4 berkeliling. Jadi nongkronglah kami di tempat duduk.

Waktu duduk tidak disia-siakan oleh seseorang yang galau, yang melakukan curhat heart 2 heart dengan NV, tapi tidak untuk lama, karena ternyata ada telp dari Batavia Air. Kami disuruh check-in sekarang karena akan dipindahkan ke penerbangan yang lebih awal. Memang kebetulan ya semuanya. Pas kami sudah ada di bandara, pas di-telp. Kalau kami belum berada di bandara pada saat itu, bisa-bisa penerbangan kami ditunda besok, karena sebenarnya kami mengambil penerbangan terakhir Batavia Air yang ke Jakarta hari ini kalau tidak salah, dan sepertinya penerbangan terakhir itu ditiadakan. Mungkin sedang ada masalah. Cuaca pada saat ini memang cukup buruk, hujan besar di bandara.

Kami ber-4 turun ke bawah untuk check in dan membayar airport tax sebesar Rp.40.000. Cukup mahal karena memang yang di Juanda ini sudah bandara internasional seperti Soekarno-Hatta. Lucu juga, jadi kami yang harusnya terbang paling belakang malah jadi yang terbang paling awal.

Setelah pamitan dengan NV, ED, SL, AJ, dan TF, kami lalu menuju ke.. hmm.. saya lupa.. kayanya ke gate 8 deh. Di sana barang kami kemudian diperiksa lagi. Mata pemeriksa memang sangat teliti. Tiba-tiba saja setelah tas SY diperiksa, mesin yang tadinya menggerakkan barang dibuat berhenti. Ia kemudian bertanya ini pisau ya? SY yang tidak merasa membawa pisau tentu saja bingung. Dibilang charger HP. Ya sudah yang mengecek juga kasih lewat. Mungkin memang dilihat tampang kami bukan tampang pembunuh kali ya? haha. Belakangan dia baru ingat kalau dia bawa pisau cukur -.-“.

Ternyata ruang tunggu setelah diperiksa itu sangat ramai. Maklum pesawatnya kan memang sudah mendarat, jadi kami memang akan pergi tidak lama lagi. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, penumpang sudah boleh berjalan ke pesawat. Tiket kami diperiksa petugas, setelah itu berjalanlah kami menuju pesawat.

Pesawat tidak berada tepat di tempat kami turun, jadi ada bus yang mengantarkan kami ke pesawat. Kondisi sedang hujan gerimis. Sampai di pesawat, cari-cari bangku. Ternyata seat kami 2A-2D letaknya di baris ke-2 dari depan. Saya sendiri duduknya di 2B.

Dari tempat duduk saya, bisa terlihat bagian depan tempat pramugari memasak (lebih tepatnya memanaskan) makanan. Setelah basa-basi prosedur keselamatan seperti biasa, pesawat pun tinggal landas. Entah saya biasa tidak memperhatikan, atau memang rasanya dari lepas landas sampai mencapai kondisi stabil di atas itu lama sekali. Memang kondisi cuaca kelihatan cukup menyeramkan sih. Di luar ada banyak awan hitam gelap, hujan pula, dan ada petir yang menyambar sesekali. Oh tidak, oh tidak, jangan bayangkan scene di Final Destination… fiuh entah kenapa saya selalu berimajinasi yang aneh-aneh dalam kondisi yang tidak pas -.-“.

Setelah stabil, MR kemudian pindah duduk ke depan, biar lebih lega. Di bagian depan itu tidak ada orang, jadi dia bisa pindah. Saya juga baru tahu ternyata peraturan di pesawat itu cukup santai. Tidak tahu apakah ini hanya berlaku di pesawat ini atau di semua pesawat :p. Bagasi di bagian atas kebanyakan penuh, jadi kebanyakan barang kami, terutama barang saya yang memang tidak terlalu banyak, saya pegang saja. Menaruh barang di pangkuan… hmm.. rasanya sih kalau di penerbangan internasional tidak boleh ini pasti. hahaha.

Saya lihat ada 1 penumpang di bagian depan mendapat makanan dan minuman A&W. Kelihatannya mungkin penumpang VIP kali ya? Ketika terbang di tempat tinggi tersebut, entah kenapa, telinga saya jadi terasa sangat sakit. Bukan cuma sebentar, tapi lama sekali, bahkan sampai turun pesawat. EM juga merasakan hal yang sama, tapi SY dan MR tidak merasakan apa-apa. Hmm, aneh juga. Ada yang tahu penyebabnya?

Perjalanan di pesawat itu jadi terasa cukup penuh penderitaan untuk saya dengan telinga yang sakit. Untungnya tidak lama kami berada di pesawat, karena jarak Surabaya-Jakarta memang tidak terlalu jauh kalau naik pesawat. Mungkin sekitar 1 jam di pesawat dan kami sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta.

Rombongan AJ dan TF, serta rombongan NV, SL, dan ED juga tiba di bandara di waktu yang tidak jauh berbeda dengan kami. Akhirnya EM, MR, TF dan AJ naik 1 taksi karena memang arah mereka sama. Saya dan SY kemudian naik 1 taksi juga karena memang rumah kami cukup berdekatan.

*hela nafas* Akhirnya selesailah Perjalanan Akbar kami. Seperti kata orang: home sweet home. Tidak peduli sejauh mana pun kita pergi, akan selalu terasa nyaman dan bahagia ketika kita tiba di rumah🙂

oiya… untuk kisah mistis #1, ternyata itu yang menjawab pertanyaan itu adalah driver kami yang tidurnya di kamar belakang. wahaha. Terbongkarlah sudah 1 misteri. Tapi untuk misteri-misteri yang lain… rasanya masih akan tetap menjadi misteri. hi..hi..hi…

Okeeee… rasanya sudah sangat amat luar biasa panjang saya menulis di post ini. (lebih dari 10.000 kata lho). Untuk kalian yang bisa membaca dari awal sampai selesai tanpa berhenti, kelihatannya harus diacungi jempol. hahaha. Ini adalah post pertama saya di tahun 2013, dan semoga saya sempat meluangkan banyak waktu (dan menambah tingkat kerajinan saya :p) dalam menulis. Terima kasih banyak sudah membaca😀. Doakan ya semoga Perjalanan Akbar ini bisa berjalan setiap tahun. See ya!

~ by desmaster on January 12, 2013.

5 Responses to “Perjalanan Akbar 2012 ~ Surabaya, Batu, Bromo, dan Sekitarnya”

  1. seru2….pics yang edisi Bromonya juga bagus2, tapi kok harga tiket pesawatnya ngga ada?

    usul ya, kalo bisa total biaya selama perjalanan dari awal sampai akhir juga di -Share donk, biar sekalian buat plan tahun depan.

    • Makasih… hehe. Itu foto sih emang faktor backgroundnya yang bagus, jadi mau yang foto jelek kaya gmn juga kayanya hasilnya bagus2 aja wkwk. Harga tiket bentar saya liat dulu *ngubek2* Rp.1.927.600 untuk 4 orang, jadi 1 orangnya Rp. 481.900. Tapi itu dibelinya dari jauh-jauh hari. Dari tanggal 2 Oktober. Kalau uda dekat-dekat harinya bisa lebih mahal lagi itu. Ide bagus buat biaya total, bisa sih saya masukin, karena memang saya ada catat lengkap juga pengeluarannya, tapi kan saya banyak juga pengeluaran yang ga penting wkwk. Kalau yang penting-penting dan saya ingat, kebanyakan saya sudah masukin di dlm post, jadi secara umum masih bisa dikira-kira. Catatan: harganya itu harga liburan ya, jadi kalau jalannya di hari biasa harusnya lebih murah.

  2. terdampar di halaman sidang binus, malah jadi baca-baca halaman lain.

    tulisan lo gokil!

    btw, telinga lo sakit di pesawat karena tekanan udara di telinga. pengalaman gw sih begitu. solusinya, adalah, tahan lubang hidup dengan jari, lalu hembuskan nafas melalui hidung (yang tersumbat). hal ini akan memaksa udara untuk keluar dari lubang telinga (atau semacemnya, gw juga ga ngerti teknisnya).

    teruslah menulis, dude!

    ps: gw baru jadi mahasiswa ekstensi di SI Binus Online Learning😄

    • *lubang hidung*

    • hoho thanks bro! Salah satu cara yg pernah gue denger jg tutup lubang hidung trus ditiup.. Tapi katanya itu bisa ada efek yang membahayakan seperti gendang telinga bisa pecah (blm tahu hoax atau bukan… monggo dicari infonya kalau yang niat). Ada yang bilang sentuh lidah ke langit-langit mulut, ada juga yg bilang telan ludah, ada yang bilang makan permen. Nah yang mana yang benar dan paling pas.. silakan dicoba-coba saja… hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: