Strategy to Grow


Tulisan saya kali ini adalah merupakan tugas refleksi minggu ke-2 dari kelas online saya di kelas T100 Ciputra. Pada kali ini, saya akan menceritakan konsep yang saya dapatkan setelah menonton dan mengikuti kelas pekan ini.

Membuat suatu bisnis memang tidak mudah dan membutuhkan ilmu sendiri untuk mempelajarinya, tetapi untuk mengembangkan satu bisnis, kita memerlukan ilmu yang berbeda lagi. Bisnis selalu berkembang, dan untuk bisa mengembangkannya, kita harus menjadi pengusaha yang fleksibel, dalam artian kita harus mampu melihat peluang-peluang dalam pengembangan bisnis, dan bahkan sampai ke tahap mengubah bisnis model.

Pola pikir kita dalam bisnis tidak bisa hanya berhubungan dengan diri sendiri. Kita harus memiliki visi dan tujuan yang lebih besar dari itu. Pada akhirnya bisnis kita adalah sesuatu yang kita gunakan untuk menolong orang lain dengan menciptakan lapangan kerja dan memajukan bangsa kita.

Menurut Bpk. Sandiaga Uno, untuk bisa scale up, kita perlu memiliki akses ke 3 hal:

1. Human Capital

2. Market

3. Modal / Capital

 

Pak Dahlan Iskan juga juga menceritakan satu cerita yang sangat menginspirasi menurut saya. Beliau bercerita mengenai temannya yang memulai usaha dari awal. Bermula dari membantu orang menjual permen. Awalnya hanya satu toples, lalu meningkat menjadi 2 toples, dan seterusnya. Akhirnya dia tahu cara membuat permen, dan kemudian mulai membuat permen sendiri dengan membeli gula. Awalnya 1 kg gula, 2kg gula, lalu bisnis berkembang terus sampai perlu pegawai dan gula yang dibeli sudah mencapai kwintalan.

Kemudian pengusaha ini berpikir supaya lebih murah, lebih baik beli langsung dari pabrik. Akhirnya ia bekerja sama dengan pabrik gula dan membeli 1 ton gula. Lalu agar bisa membawa gula tersebut, dibeli pula 1 truk. Bisnis kemudian terus berkembang sampai ada 20 truk.

Kemudian pengusaha ini berpikir lagi truknya sayang karena kosong ketika dibawa ke pabrik dan kembali baru penuh. Oleh karena itu, ia bertanya apa yang kira-kira bisa dibantu kirim ke sana untuk perginya. Maka kapasitas truk pun menjadi lebih terisi.

Karena pabrik gula hanya produksi 8 bulan, maka 4 bulan sisanya truk tidak ada kegiatan. Hal ini tentunya sayang juga, jadi akhirnya pengusaha ini memikirkan cara untuk memanfaatkan 4 bulan itu. Ia mencari-cari perusahaan lain yang butuh pengiriman, dan ketemu perusahaan yang ingin mengantarkan kopra. Ternyata kopra itu dikirim ke pabrik minyak goreng. Akhirnya lama-kelamaan ia juga mengenal staff di pabrik minyak goreng, dan bahkan akhirnya membuat pabrik minyak goreng sendiri.

Sekarang ini, pengusaha tersebut kata pak Dahlan memiliki salah satu toko emas besar di Indonesia, tapi tetap menjual permen di depan rumahnya.

Moral cerita ini yang bisa saya tangkap adalah bagaiman pengusaha ini benar-benar berjuang dari bawah, dimulai dari yang kecil, membuat orang mempercayainya, benar-benar sungguh-sungguh, kerja keras, kreatif dan terus mengembangkan diri tetapi tetap rendah hati. Sangat mengesankan!

T100 Sukses melalui bisa dipercaya - Dahlan Iskan.mp4_snapshot_08.51_[2014.03.03_12.02.52]

Ada lagi konsep menarik dari pak Sudhamek, yaitu penjelasan mengenai industri yang menarik. Di mana industri yang menarik itu ada 3 faktor yang diperhatikan:

1. Pertumbuhan industri semakin pesat semakin baik.

2. Kompetisi semakin sedikit semakin baik.

3. Profit semakin besar semakin bagus.

Pada akhirnya bisnis itu bukan menjual barang / jasa, tapi menjual nilai tambah. Nilai tambah itulah yang harus kita ciptakan.

 

Menurut pak Antonius Tanan, ada 3 kata kunci dalam entrepreneurship. Yaitu:

1. peluang

2. solusi

3. resiko

Peluang perlu kita ciptakan dari adanya masalah. Solusi perlu diinovasikan, sedangkan resiko perlu kita kecilkan dan kalau bisa dihilangkan.

 

Pak Nur Agustinus Sudjatmiko juga menjelaskan mengenai daur hidup usaha. Berikut adalah tampilannya:

T100 Strategi Bertumbuh berdasarkan Daur Hidup Usaha - Nur Agustinus.mp4_snapshot_01.21_[2014.03.03_14.23.42]

 

Kita perlu mengetahui masing-masing tahap dalam daur hidup tersebut untuk bisa menjaga kelangsungan bisnis.

Fase startup adalah fase awal dimulainya bisnis termasuk tahap pengenalan produk ke pasar.

Kapan masuk ke fase growth / pertumbuhan? Dimulai ketika perusahaan sudah melewati titik impas sehingga mulai mendapatkan keuntungan. Harus diingat kalau keuntungan itu bukan cm dilihat dari kita jual barang untung berapa, tapi harus dihitung semua biaya, seperti listrik, tenaga kerja, dsb.

Fase maturity itu terjadi ketika perusahaan sudah mencapai tahap economic of scale / economic of scope, jadi pengembangan produknya sudah sangat ekonomis.  Pengembangan usaha masih bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti iklan.

Akhirnya masuk fase rebirth atau death, dimana kalau kita tidak melakukan inovasi, maka bisnis kita makin lama akan makin menurun dan mati.

 

Demikian refleksi pekan ini, semoga bermanfaat.

 

 

~ by desmaster on March 9, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: