Yuk Kita Ketahui Lebih Banyak Tentang Bangka – Part II


Kita berjumpa lagi di tulisan tentang Bangka… Jadi ceritanya Juni 2016 ini saya pergi lagi ke Bangka, setelah pertama kali pergi di tahun lalu (bisa lihat detailnya di sini). Pada perjalanan kali ini, saya memperhatikan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Saya mempelajari lebih banyak tentang penduduk lokal, kebiasaan-kebiasaan mereka, adat mereka, dsb. Penduduk lokal yang saya amati pun bukan dari semua penduduk, tapi khusus untuk warga suku Tionghoa yang ada di Bangka (karena saya banyak menghabiskan waktu dengan mereka). Seperti postingan saya sebelumnya, tulisan ini isinya murni adalah hasil pengamatan saya saja, jadi mohon maaf kalau ternyata ada banyak perbedaan dengan yang biasa dialami. Mohon jangan tersinggung ya…

 

Sifat Suku Tionghoa Bangka

Again, saya tidak tahu apakah ini berlaku untuk semua suku Tionghoa di Bangka, atau hanya khusus berlaku untuk orang-orang yang kebetulan saya temui, atau malah berlaku untuk semua warga etnis lainnya di Bangka. Jadi, silakan dibaca dengan santai.

  • Sugar & Coffee

Ada kebiasaan di antara warga Bangka, yaitu meminum kopi. Warga di sini minum kopi hampir setiap hari… Saya sendiri selama berada di Bangka juga selalu ditawarkan kopi setiap harinya, dan karena saya suka dengan kopi, jadi enjoy saja… *seruput kopi*

Saya sendiri bukan pencinta (fun fact: menurut KBBI, yang benar itu pencinta, bukan pecinta) manis, dan kalau saya minum kopi itu cukup ditambahkan sedikit gula sudah cukup… dari pengalaman di kopitiam-kopitiam yang pernah saya kunjungi, kalau pesan kopi susu, itu akan terlalu manis untuk saya, karena susu kentalnya terlalu banyak. Anyway, koq jadi ngelantur ke sana ya?

Orang-orang Bangka adalah pencinta kopi manis. Gula yang digunakan untuk 1 gelas kopi cukup banyak, mungkin bisa beberapa sendok gula. Lalu, menariknya lagi, pada umumnya orang yang meminum kopi itu adalah para lelaki, tidak banyak wanita yang minum kopi. Namun, biasanya para lelaki tidak membuat kopi sendiri, melainkan dibuatkan oleh para wanita. Saya sebagai kaum Adam malas merasa sangat dimanjakan dengan kebiasaan ini. *seruput kopi imaginer… *

Merek kopi yang khas Bangka dan cukup mudah didapatkan di banyak tempat adalah merek kopi Kingkong.

Kopi Kingkong

Kopi Kingkong

  • Makan, makan, dan makan

Rasanya ini adalah hal umum yang sering dilakukan di banyak daerah, bukan hanya di Bangka. Ketika ada keluarga ataupun tamu yang datang ke rumah, hampir selalu ditawari makan, kecuali kalau memang kebetulan tidak ada makanan… tapi itu jarang terjadi. Makanannya sendiri bisa dari makanan ringan seperti kue-kuean, sampai makanan berat.

Para wanita di Bangka, baik yang masih muda maupun yang sudah berumur, pada umumnya bisa masak. Saya tidak tahu apakah para lelaki bisa masak juga atau tidak karena pada umumnya wanita yang memasak di dapur.

Warga Bangka keturunan Tionghoa sendiri cukup terkenal di sana untuk urusan membuat kue. Banyak sekali dari mereka yang ahli dalam membuat kue. Resepnya pun ada yang memang diwariskan turun-temurun, selain belajar dari sumber-sumber lainnya. So kesimpulannya, kalau mau makan enak, main-mainlah ke Bangka.

  • Kebiasaan berkumpul

Keluarga di sini suka berkumpul. Hubungan di dalam keluarga sangat dekat. Mungkin bila mereka diminta menyebutkan teman terbaiknya, mereka akan menyebutkan nama saudara kandung ataupun sepupu. Ini beda dengan di Jakarta, dimana banyak anak yang lebih bergaul dengan teman dibanding keluarga.

Satu hal yang menarik ketika keluarga besar di Bangka berkumpul adalah mereka akan membentuk 2 kelompok. Ibu-ibu dan wanita akan berkumpul di dapur… ngobrol-ngobrol ataupun sambil melakukan aktivitas seperti memasak atau sekadar duduk-duduk, Sedangkan bapak-bapak dan para lelaki akan berkumpul di bagian depan rumah, ngobrol-ngobrol sambil minum kopi, merokok, atau bisa juga minum bir (untuk 17 tahun ke atas saja ya!). Sangat jarang ditemukan bapak-bapak dan ibu-ibu ini berkumpul ramai-ramai di 1 tempat untuk jangka waktu yang lama.

  • Kendaraan

Kendaraan umum masih sangat sulit ditemui di Bangka. Tahun 2015 ketika saya pergi ke sini, hanya ada kendaraan antar kota. Tahun ini, sudah mulai terlihat mobil biru taksi Blue Bird di jalan-jalan, walaupun masih jarang.

Dengan sedikitnya kendaraan umum, maka alternatif kendaraan yang digunakan oleh warga di sini adalah motor dan mobil pribadi. Jangan heran kalau lihat dari anak muda sampai orang yang sudah berumur, laki-laki dan perempuan, hampir semua bisa naik motor (walaupun belum tentu semua mengendarai dengan “benar”).

  • Hobi

Banyak laki-laki di Bangka yang memiliki hobi yang unik dan tidak dapat dilakukan di Jakarta, yaitu berburu. Hal ini bisa dilakukan karena di wilayah Bangka masih terdapat banyak hutan-hutan. Biasanya mereka akan perlu berburu ketika tidak bekerja, atau ketika weekend.

Perburuan dilakukan bisa di dalam 1 hari, atau kadang-kadang dilakukan juga sampai berhari-hari menginap di hutan. Ada 2 target hewan utama yang menjadi buruan, yaitu tupai dan juga babi hutan. Mereka menggunakan senapan angin dan juga perangkap-perangkap untuk menangkap buruan tersebut. (Promo lagi: jangan lupa baca bagian pertama post saya di Bangka di sini, ada pengalaman saya makan daging tupai).

Hasil dari perburuan sendiri seringkali digunakan sebagai makanan untuk keluarga mereka. Ada pula yang menjualnya ke pasar. Namun, tetap tujuan utama mereka adalah bukan untuk mencari makanan ataupun uang, melainkan untuk hobi.

Pengaruh yang mudah terlihat adalah karena mereka sering keluar masuk hutan, maka terbentuk otot alami. Jadi, jangan heran kalau ada orang-orang yang bahkan cukup berumur tapi memiliki badan yang kekar berotot (tentunya bukan tipe otot yang hanya untuk tampilan, tapi benar-benar otot untuk digunakan).

  • Bahasa dan Gaya Bicara

Pada postingan saya sebelumnya, saya sempat membahas mengenai ini. Kali ini, karena saya tinggal di sana lebih lama dan lebih dekat dengan orang-orang Bangka, maka saya tahu jauh lebih banyak.

Kondisi pertama yang saya sekarang sadari adalah kebanyakan orang Bangka yang belum pernah keluar dari pulau Bangka, akan cukup kesulitan dalam berbicara bahasa Indonesia. Saya sering sekali tidak mengetahui apa yang dibicarakan oleh orang-orang Bangka, walaupun kelihatannya seperti bahasa Indonesia, dan mereka pun sangat sulit untuk mengerti apa yang saya bicarakan dalam bahasa Indonesia… jadi orang yang bawel banyak bicara ini mau tidak mau jadi orang pendiam.

Kesulitan bahasa ini lebih banyak terjadi apabila berbicara dengan keluarga chinese, sebab untuk orang-orang Melayu, bahasanya masih lebih nyambung, walaupun tetap berbeda.

…and of course, almost all of the people that I met there can’t speak English… at all…

Bahasa lainnya yang digunakan di sana adalah bahasa dialek Khek dan juga mandarin, atau bisa juga campuran semuanya, yaitu bahasa Bangka, bahasa Melayu, dan bahasa Khek.. nah kalau sudah seperti ini, seperti kata anak-anak muda zaman sekarang… GGWP (Good Game Well Played).

Lalu gaya bicara mereka juga cukup unik. Kalau berbicara dengan keluarga, terkadang mereka bisa berbicara yang menurut saya sangat pelan pada keluarga. Uniknya lagi, tetap bisa didengar dan dibalas pembicaraan tersebut, walaupun berbeda ruangan.

Kondisi yang bisa membuat pusing adalah kalau keluarga atau teman-teman atau siapapun orang-orang dalam jumlah yang cukup banyak sudah berkumpul. Mereka akan berbicara dengan volume yang WOW… seperti berteriak. Kalau hanya satu-dua orang saja yang berbicara keras, masih tidak apa-apa… tapi ini kondisinya adalah, bisa-bisa semua berbicara seperti itu di dalam rumah… terutama para wanita. Jangan-jangan ini alasan kalau sedang berkumpul, para lelaki memilih berkumpul di luar rumah. Saya saja pusing lama-lama di dalam rumah… haha…

 

  • Mandi

Saya sudah pernah cerita kalau di Bangka ini panassssss (S-nya diperbanyak agar lebih dingin #garing). Udara yang panas, tentunya mudah gerah dan berkeringat. Kalau sudah begitu, cara nyamannya adalah…? Benar sekali! Mandi. Orang-orang di sini bisa sering sekali mandi, bisa 2x, 3x, 4x,… dalam sehari. Hmm.. alasannya memang cukup jelas, masuk akal.

  • Rajin Membersihkan Rumah

Kalau saya sedang di kamar kos, rasanya jarang sekali menyapu… mungkin beberapa bulan sekali, kalau benar-benar merasa kotor. (tapi saya laki-laki malas dan berantakan, jadi tidak bisa dijadikan standar). Uniknya, orang-orang Bangka, dalam hal ini para wanita, rajin sekali membersihkan rumah. Mereka menyapu setidaknya 2x dalam 1 hari. Bahkan kalau sedang ada acara, bisa-bisa setiap agak sepi sedikit di rumah, langsung disapu. Mengepel juga sering dilakukan. Luar biasa lah kalau untuk urusan membersihkan lantai.

 

Adat Pernikahan Suku Tionghoa Bangka

Satu keberuntungan bagi saya ketika berada di sini adalah bisa melihat secara langsung prosesi dan adat pernikahan suku Tionghoa Bangka. Dari pengamatan saya, ada 3 bagian utama dari pernikahan, yaitu seserahan (sang jit), pernikahannya sendiri, dan pengantin wanita pulang ke rumah (con cau).

  • Sang jit

Ini adalah satu prosesi yang hampir selalu ada di acara pernikahan orang-orang Tionghoa. Keluarga calon mempelai pria akan datang untuk memberikan seserahan kepada keluarga calon mempelai wanita. Kegiatan ini dilakukan pada hari-hari sebelum pernikahan. Pada acara yang saya ikuti, sang jit dilakukan 1 hari sebelum pernikahan.

Dalam acara ini, para keluarga yang dituakan dari keluarga pria akan datang ke rumah wanita, tapi sang calon mempelai pria sendiri tidak ikut. Mereka kemudian memberikan seserahan yang ditaruh di nampan ke keluarga wanita yang juga dituakan.

Ada 6 nampan yang digunakan untuk acara ini, dimana masing-masing isinya adalah:

– Pakaian

– Buah-buahan

– Makanan

– Daging

– Peralatan sembahyang

– Kosmetik

Ini fotonya:

Seserahan Sangjit

Seserahan Sangjit

Perbedaan utama antara seserahan yang dilakukan di Bangka dengan yang biasa di Jakarta adalah mereka menggunakan ayam yang masih hidup… Gak percaya? Coba lihat foto ini:

Ayam Seserahan

Ayam Seserahan

2 ekor ayam hidup dan huge pork knuckles! Setahu saya, biasanya kalau di Jakarta hanya pakai daging kalengan saja (supaya mudah juga). Personally, saya merasa kasihan dengan ayam-ayam itu yang sudah sangat kepanasan karena berada di kantong plastik selama acara, dan setelah acara… disembelih pula.

Acara belum selesai. Walaupun pihak wanita diberikan seserahan-seserahan tersebut, namun sesuai tradisi, 1/2 dari semua seserahan tersebut harus dikembalikan lagi ke pihak pria. Pada acara ini, tentunya disediakan makanan untuk semua tamu yang hadir.

  • The Wedding

Dimulai dari perginya keluarga besar wanita ke rumah keluarga besar pria. Pada tahap ini, ada 1 tradisi yang rasanya sudah tidak dilakukan di Jakarta, yaitu keluarga wanita akan membawa bermacam-macam barang, seperti koper isi baju keluarga wanita, lalu ada juga ayam hidup (lagi…. tapi kali ini katanya ayamnya dipelihara… yay!), dan lain-lain (baca: tidak ingat).

Untuk pembawa barang-barang tersebut kali ini tidak perlu yang dituakan. Bahkan, saya juga di-outsource untuk bantu bawa koper… haha. Barang-barang tersebut kemudian akan diterima oleh keluarga pria. Kenapa barang-barang wanita dibawa ke sini? Karena si mempelai wanita tidak boleh pulang lagi ke rumah keluarganya setelah menikah, sampai nanti waktunya pulang ke rumah (ada perayaan juga untuk pulangnya mempelai wanita ke rumah).

Setelah itu ada prosesi mempelai pria bertemu dengan mempelai wanita. Belakangan, saya baru tahu ternyata katanya yang belum menikah seharusnya tidak boleh melihat prosesi tersebut… and I did… hopefully i won’t die old and alone… lol

Kebiasaan unik lainnya adalah pada umumnya orang-orang di Bangka membuat pesta pernikahan pada rumah mereka masing-masing. Pekarangan rumah mereka luas, jadi tinggal dibuat tenda, panggung, dll. Berbeda dengan di kota-kota besar, dimana orang-orang berusaha membuat resepsi pernikahan di tempat yang semewah mungkin, apabila pernikahan di Bangka diselenggarakan di hotel, itu tidak dipandang sebagai orang yang kaya. Pilihannya pada umumnya ada 2 alasan, yaitu (1) keluarga tinggal di tempat yang tidak punya halaman luas, sehingga harus menyewa gedung, atau (2) keluarga terlalu malas membersihkan halaman rumah setelah acara. So… sebisa mungkin buatlah acara di rumah sendiri kalau tinggal di Bangka.

Makanan pun tersedia seharian, dari pagi sampai malam, namun tamu undangan biasanya akan mulai berdatangan dari sore hari. Ada live music juga lho…. dangdutan… haha. Selain itu bisa juga putar lagu dari CD, atau bagi tamu yang ingin ber-karaoke, silakan saja.

Makanan Resepsi

Makanan Resepsi

Nah terlihat di gambar atas itu makanan-makanannya yang berjejer (di meja jauh), ada juga minuman, dan di ujung jauh sana ada penyanyi. Satu lagi kebiasaan unik orang-orang Bangka adalah mereka suka membungkus meja dan juga makanan dengan kertas coklat seperti pada gambar (sepertinya ada nama kertas ini… tapi saya lupa).

Setelah selesai kumpul-kumpul keluarga di rumah keluarga pria, maka keluarga wanita pun pulang ke rumah keluarga wanita, kecuali mempelai wanita, yang tetap di sana untuk acara tuang teh (te pai) ke keluarga pria. Acara kemudian berlanjut di rumah keluarga wanita, di mana pengantin kembali ke rumah wanita, lalu sembahyang dan tuang teh (te pai) ke keluarga wanita.

Selesai dari rumah keluarga wanita, barulah acara dilanjutkan ke tempat ibadah, dimana pengantin mengikuti prosesi religi dan juga disahkan secara hukum. Inilah momen ketika mempelai resmi menjadi suami istri.

Acara kemudian dilanjutkan kembali ke rumah mempelai pria, dimana resepsi pernikahan diadakan. Tamu bahkan sudah mulai berdatangan dari jam 3 sore. Berapakah tamu yang diundang untuk acara pernikahan? Kalau di Jakarta mungkin 300 orang, ada juga yang 500 orang. Di sini? Undangan yang disebar itu >500 undangan, dan tamu yang hadir biasanya tidak sendiri, dan bukan cuma mengajak pasangan, terkadang ada yang mengajak teman, bahkan ada yang bisa datang lebih dari 5 orang. Waktu resepsi yang panjang, membuat tamu bebas datang dan pergi kapan saja, tidak perlu mengikuti acara sampai selesai.

  • Con Cau

Begini detail ceritanya sesuai dengan yang saya lihat dan dengar:

Pengantin wanita, sejak hari menikah, harus tinggal bersama pengantin pria. 3 hari kemudian, barulah pengantin wanita pulang ke rumah keluarganya. 3 hari itu hitungannya mulai dari hari pernikahan, jadi kalau menikah Sabtu, berarti pulang ke rumah hari Senin. Kalau Minggu berarti Selasa, dst.

Pengantin pria dan wanita datang ke rumah keluarga wanita di pagi hari. Tentunya, di rumah ini sudah disediakan makanan lagi untuk menyambut mereka dan tamu-tamu. Pada siang hari, mempelai wanita harus pergi lagi dari rumah… don’t ask me why... Setelah itu, baru malamnya balik lagi, dan diperbolehkan menginap kalau mau.

Selesailah pembahasan tentang pernikahan.

 

Tempat Wisata

Biarpun tidak sempat ke banyak tempat karena memantau pernikahan, tapi apalah jadinya jalan-jalan tanpa pergi ke tempat wisata. Ini beberapa tempat wisata yang saya pergi, dan belum dibahas pada post sebelumnya:

  • Pantai Tapak Hantu

Pantai yang sangat indah. Cukup banyak pohon dan bebatuan. Perjalanan ke tempat ini kurang lebih memakan waktu 30 menit dari Pangkalpinang. Air laut sedang berada dalam kondisi surut ketika saya pergi ke sana. Kalau mau berfoto-foto yang menarik, bisa coba kunjungi pantai ini.

Pantai Tapak Hantu

Pantai Tapak Hantu

  • Fathin San

Vihara ini terletak kurang lebih 30 menit dari kota Sungailiat. Bersiaplah untuk membawa kendaraan mendaki ketinggian yang cukup ekstrim. Vihara ini terletak di bukit, yang artinya kita akan terus menanjak. Jam buka vihara sampai pukul 5 sore, akan tetapi dari jam 4 saja sudah tidak diperbolehkan masuk, karena bisa-bisa tidak sempat turun pada jam 5. Saran saya, ketika hujan, jangan pergi ke tempat ini, karena jalanannya akan menjadi sangat lengket (Like they said, experience is the best teacher).

Gerbang Fathin San

Gerbang Fathin San

Sebenarnya dari gerbang bawah ini, tidak terlalu jauh sampai ke vihara, tapi karena jalanannya mendaki dan dilewati dengan kendaraan, harus berhati-hati.

Setelah sampai di vihara, kita bisa naik ke bukit. Jangan takut jalanan yang rusak, karena jalanan di bukit ini sudah dibuat tangga. Di bukit itu sendiri, kita bisa sembahyang, dan pergi ke beberapa tempat yang pemandangannya cukup menarik. Bisa melihat kota dari ketinggian.

Tangga di Fathin San

Tangga di Fathin San

Pemandangan di Puncak Fathin San

Pemandangan di Puncak Fathin San

Sesuatu yang menarik perhatian saya di tempat ini adalah ketika saya lihat buah yang dijadikan persembahan “dinikmati” oleh makhluk lainnya.

Buah di Fathin San

Buah di Fathin San

Saya suka melihat bekas gigitan tupai dan juga semut-semut yang makan buah-buahan tersebut. Buah-buahan seperti ini ternyata bisa membuat makhluk lain berbahagia🙂

  • Vihara Dewi Kwan Im / Sumur Kwan Im

Berlokasi di dekat Sungailiat, banyak yang menyebut tempat ini sebagai vihara, tapi ada juga yang menyebutnya sebagai sumur, karena nantinya dikatakan akan dibangun tempat ibadah agama-agama lainnya.

Katanya, Titiek Puspa dulu sering datang ke tempat ini untuk mandi karena airnya berkhasiat untuk menjaga kecantikan. Selain itu, ada 1 lokasi di mana kita bisa berdoa lalu melempar koin. Katanya kalau koinnya mendarat di tengah, tidak jatuh ke air, maka keinginan kita akan terkabul.

Tempat Lempar Koin di Sumur Kwan Im

Tempat Lempar Koin di Sumur Kwan Im

Merek-merek Lokal

Untuk menutup tulisan saya ini, akan saya tuliskan beberapa merek lokal Bangka yang sangat terkenal di Bangka, tapi mungkin jarang terdengar di tempat lain.

  • Kopi Kingkong

Sudah diceritakan ya mengenai kopi ini di bagian atas. Lebih baik tidak diceritakan lebih lanjut, nanti dibilang promosi pula hahaha.

  • Bolesa

Kalau air mineral di tempat-tempat lain biasanya merek Aqua, Ades, 2Tang, dll., merek yang paling banyak digunakan dan paling umum terlihat dimana-mana di Bangka yaitu merek Bolesa.

Air Minum Bolesa

Air Minum Bolesa

  • BES Cinema

Nah kalau di kota-kota besar ada XXI, 21cineplex, Blitz Megaplex… di Bangka, hanya ada 1 bioskop, dan itupun baru dibuka di tahun 2016 ini. Namanya adalah BES Cinema. Silakan nonton bioskop di sini… hehe

Iklan BES Cinema di Koran

Iklan BES Cinema di Koran

 

Makaaaaa berakhir sudah post saya kali ini. Thanks for reading! Kalau ada yang punya pendapat, komentar, saran, kritik, dll., silakan komentar..😀

~ by desmaster on August 4, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: